Inilah dilema yang lebih besar dari perang tersebut.
Amerika Serikat tetap memiliki salah satu armada laut paling kuat di dunia. Kapal induk, kapal perusak, kapal selam, pesawat tempur dan sistem persenjataannya tetap memberikan kemampuan proyeksi kekuatan yang sangat besar.
Tetapi perang melawan Iran memperlihatkan bahwa kekuatan tersebut memiliki batas ketika berhadapan dengan lawan yang tidak perlu mengalahkan seluruh armada Amerika untuk menciptakan masalah.
Iran hanya perlu membuat biaya operasi menjadi semakin mahal, ruang gerak semakin sempit dan jalur logistik semakin rentan.
Selat Hormuz menjadi pusat persoalan itu.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Gangguan terhadap kawasan itu tidak hanya berdampak pada dua negara yang berperang, tetapi juga terhadap perdagangan minyak dan keamanan energi global.
Karena itu, perang Iran-Amerika bukan semata-mata tentang siapa yang memiliki lebih banyak kapal perang.
Pertanyaan yang lebih menentukan adalah siapa yang mampu mempertahankan kemampuan tempurnya lebih lama.
Dan di titik itulah perang berkepanjangan mulai menguji bukan hanya rudal dan kapal induk Amerika, tetapi juga logistik, teknologi, pemeliharaan serta moral manusia yang mengoperasikannya.









