Tetangga yang Tak Akur

oleh -141 views
Link Banner

Oleh: Ihsan Reliubun, Mahasiswa Jurnalistik IAIN Ambon

Gubernur Maluku Murad Ismail tidak perlu menyalahkan Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy dengan menyebutnya cengeng. Karena masyarakat akan berkesimpulan kedua pemimpin ini sama-sama lemah semangat dalam memerangi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Sampai sekarang masyarakat menunggu kerja keras mereka dalam menangani penyebaran virus mematikan itu. Ini masalah bersama. Jadilah tetangga yang akur.

Selanjutnya, sikap cengeng tidak akan menyelesaikan wabah di Ambon dan Maluku. Masyarakat butuh kerja serius Murad dan Richard. Bukan sekadar membuat peraturan dan pernyataan yang menghina akal sehat kita.

Pernyataan terkait Covid-19 meningkat karena hujan selama sebulan merupakan pernyataan Murad yang tak mendasar.

Baca Juga  Buka Pelatihan Publik Speaking, Kadiv Humas: Sebagai Tindak Lanjut Pemantapan Komunikasi Publik

Pernyataan serupa justru membingungkan masyarakat. Berpotensi membuat masyarakat tidak percaya bahwa virus ini ada. Dan wajar ketidakpercayaan itu muncul, sebab pola komunikasi yang dipakai para pejabat beraroma tak sedap.

Belum lagi pendapat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Rovik Akbar, di salah satu media online, 9 Juni lalu:

“Saya sampaikan tidak ada pasien yang meninggal sampai hari ini karena corona. Kalau ada silakan Tim Gugus Tugas Cavid-19 klarifikasikan buat saya.” Argumen Rovik ini gampang dipatahkan.

Bagaimana Ambon disetujui Kementerian Kesehatan supaya menjalankan pembatasan sosial berskala besar? Mengapa setiap orang diperintah menjalankan protokol kesehatan? Mengapa Anda mengenakan masker?

Muncul berbagai pernyataan “liar” itu menunjukkan para pengambil kebijakan ini tidak pernah duduk bersama membahas masalah virus yang sudah menginfeksi banyak orang.

Baca Juga  Terungkap, Artis Vernita Syabila Minta 'Job' ke Koordinator Mucikari via Chatting

Selebihnya, Richard atau Murad tetap dikritik. Kedua pejabat ini punya tanggung jawab untuk membawa Ambon atau Maluku bersih dari corona. Di pundak mereka masyarakat menggantung nasib.

Mereka yang duduk sebagai pemimpin—dipilih melalui hasil demokrasi. Jangan pula menjadi pejabat antikritik.

Mengkritik Murad bukan berarti membela Richard, dan sebaliknya. Siapa pun boleh mengajukan kritik. Dalam kondisi ini, bersikap nyinyir terhadap kritik masyarakat tidak membawa dampak baik dalam menangani wabah.

Barangkali kedua hulubalang rakyat ini perlu akur. Demi memerangi virus yang sampai hari ini mengusik ketenangan semua orang. (*)