Oleh: M. Nasir Djamil, Anggota DPR RI Dapil Aceh
LIMA puluh tujuh tahun silam, langit biru Indonesia berubah menjadi hitam pekat. peristiwa di tahun itu menjadi lembaran hitam perjalanan sejarah bangsa ini. Kekuatan politik yang bernama Partai Komunis Indonesia (PKI), melakukan kudeta kekuasaan dan ingin mengganti ideologi pancasila menjadi ideologi komunis. Tidak itu saja, dalam rangka memuluskan ambisinya, PKI juga membunuh dengan kejam dan sadis sejumlah jenderal dan perwira, bahkan seorang bocah perempuan yang tak berdosa bernama Ade Irma Suryani Nasution, juga meninggal akibat terkena tiga butir peluru yang dimuntahkan oleh pasukan cakrabirawa yang dipimpin oleh Kolonel Untung. Sang ayah yang tak lain Jenderal Abdul Haris Nasution lolos dari maut. Tapi nasib yang berbeda dialami oleh Jenderal Ahmad Yani , Mayjen R Suprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Setelah dibunuh, jasad mereka ditimbun bersamaan di sebuah tempat bernama lubang buaya. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan pahlawan revolusi.
Menariknya sejarah kelam pembantaian sadis ini dikemas dalam sebuah film yang berdurasi selama hampir empat jam, Film ini mampu menjadi alat untuk meyakinkan dan membuat masyarakat percaya bahwa kudeta yang dilakukan pada tahun 1965 adalah ulah dari PKI dan PKI adalah sekelompok manusia yang kejam karena melakukan kekerasan terhadap para masyarakat dan puta-putri terbaik bangsa. Kontroversi pun lahir setiap tahunnya dari penayangan film ini Ketika mendekati 30 September.









