Liciknya Netanyahu

oleh -336 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Kalau politik luar negeri itu permainan catur, maka keputusan Presiden Prabowo Subianto meneken akta Board of Peace (BoP, Dewan Perdamaian) adalah langkah “skak” yang membuat banyak penonton di tribun mendadak menahan napas.

Terutama para kiai dan pimpinan ormas Islam, yang dahi mereka berkerut serempak seperti papan tulis penuh coretan dosen killer. Mereka riuh menyatakan penolakan atas keikutsertaan Indonesia dalam BoP bentukan Donald Trump.

Riuh itu wajar, tentu saja. Gaza bukan papan latihan, Palestina bukan pion cadangan. Maka, ketika ormas-ormas Islam dipanggil datang untuk diberi paparan, Istana pun berubah serasa ruang sidang skripsi tingkat doktoral.

Hampir lima puluh pimpinan ormas duduk anteng, sementara sang Presiden — dengan tenang khas prajurit lama — memaparkan argumen. Ia tidak menjual mimpi, apalagi janji surga diplomatik.

Baca Juga  Lima Wakil Inggris Lolos ke Liga Champions 2026/2027, Persaingan Premier League Kian Ketat

Kalimat Prabowo sederhana, nyaris datar: kita masuk bukan untuk jadi pengikut, melainkan pemain. Baginya, lebih baik punya kursi di dalam ruangan daripada berteriak dari luar pagar sambil berharap pintu terbuka karena iba.

Para tokoh ormas pun melunak ketika ada jaminan yang diselipkan Prabowo, seperti tombol darurat di kokpit pesawat: jika BoP berubah menjadi panggung legitimasi penindasan, Indonesia siap angkat kaki. Mundur terhormat. Sayonara.

No More Posts Available.

No more pages to load.