Amnesia Pembangunan: Mare di Bawah Ketimpangan

oleh -9 views

Oleh: M. Farel Achmad, Mahasiswa Fakultas Hukum Unkhair, Kader dJAMAN Malut

Pemerintah Kota Tidore Kepulauan belakangan ini tampak lebih sibuk merayakan euforia ketimbang menuntaskan pekerjaan rumah pembangunan. Berbagai agenda seperti Lokal Fest, lomba domino, hingga balapan motor digelar meriah, namun menyisakan pertanyaan mendasar: untuk siapa pembangunan itu sebenarnya diarahkan?

Di tengah gegap gempita tersebut, ketimpangan justru kian nyata. Alih-alih menjadi instrumen pemerataan, kebijakan yang diambil terkesan lebih mengejar validasi politik menjelang momentum elektoral. Pertanyaannya, apakah ini wajah pembangunan yang ingin kita wariskan?

Mare: Surga yang Terlupakan

Pulau Mare, yang secara administratif merupakan bagian dari Kota Tidore Kepulauan, seolah hanya menjadi pelengkap di atas peta. Padahal, pulau ini menyimpan potensi besar. Panorama pantai yang memikat, terumbu karang yang masih terjaga, atraksi lumba-lumba di kawasan wisata Kahia Masolo, hingga hutan bakau yang terawat alami, menjadikan Mare sebagai destinasi ekowisata yang menjanjikan.

Tak hanya itu, Mare juga dikenal dengan kerajinan gerabahnya. Tanah liat yang melimpah menjadi sumber penghidupan masyarakat. Produk-produk gerabah dipasarkan hingga ke Tidore, Ternate, bahkan Halmahera. Dengan segala potensi tersebut, Mare sejatinya bukan wilayah pinggiran, melainkan aset strategis.

No More Posts Available.

No more pages to load.