Dua Lapis Kesadaran dalam Sastra: Membaca “Laut Bercerita” dan “Kalatidha”

oleh -472 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada duka yang tercatat dalam peristiwa — Laut Bercerita. Ada pula duka yang hidup diam-diam dalam batin manusia — Kalatidha.

Membaca dua novel ini seperti menatap dua lapis kesadaran: yang satu mengajarkan pentingnya mengingat, yang lain mengajak kita memahami bagaimana sebuah zaman dapat perlahan kehilangan kejernihannya.

Dalam Laut Bercerita, sejarah hadir bukan sebagai latar samar, melainkan sebagai pengalaman yang nyaris berdenyut. Novel ini membawa kita pada kisah para aktivis muda yang diculik, disiksa, dan dihilangkan — sebuah tragedi yang tidak hanya merenggut tubuh, tetapi juga merobek kehidupan keluarga yang ditinggalkan dalam ketidakpastian.

Namun kekuatan Leila S. Chudori tidak terletak semata pada keberaniannya menghadirkan kekerasan, melainkan pada cara ia memanusiakan duka. Para tokohnya tidak berdiri sebagai simbol, tetapi sebagai anak, sahabat, kekasih — manusia-manusia yang memiliki mimpi sederhana tentang masa depan.

Baca Juga  BYD Luncurkan Atto 3 Generasi Ketiga, Jarak Tempuh Tembus 630 Km dan Dibekali Lidar

Justru melalui kedekatan itulah pembaca merasakan bahwa kehilangan tidak pernah menjadi peristiwa abstrak. Ia menjalar ke ruang makan yang kursinya mendadak kosong, ke meja belajar yang tak lagi disentuh, ke percakapan keluarga yang berhenti di tengah kalimat.

No More Posts Available.

No more pages to load.