Dari Pantai Naira, Anak-anak Aboru Menyalakan Asa Pendidikan Lewat Literasi dan Numerasi

oleh -123 Dilihat
Pantai Naira di Negeri Aboru, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi ruang belajar terbuka bagi lebih dari 100 siswa SMP dan SMA, Jumat (30/10/2026).

Porostimur.com, Ambon – Pantai Naira di Negeri Aboru, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi ruang belajar terbuka bagi lebih dari 100 siswa SMP dan SMA, Jumat (30/10/2026). Di bawah rindangnya pepohonan pesisir dan hembusan angin laut, anak-anak mengikuti kegiatan literasi dan numerasi dengan pendekatan kreatif yang memadukan permainan, seni, alam, dan budaya lokal.

Kegiatan bertajuk Pojok Literasi dan Numerasi ini digagas Komunitas Buku voor Aboru (BVA), sebuah jejaring sosial anak-anak perantauan asal Aboru. Program tersebut terlaksana melalui kolaborasi dengan Yayasan Elphidos Maluku dan Yayasan Tahija, serta melibatkan sekolah dan masyarakat setempat.

Pantai Naira yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Lealohi Samasuru itu menjadi tempat generasi muda Aboru membangun harapan melalui pendidikan. Jika dahulu kawasan tersebut menyimpan kisah perjalanan leluhur dari Nunusaku di Pulau Seram, kini pesisir yang sama menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal ilmu pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan merancang masa depan.

Tujuh Pojok Belajar, Perahu Pelepah Sagu Jadi Simbol Cita-cita

Sebanyak 100 lebih peserta didik dari SMP Negeri 39 Maluku Tengah dan SMA Negeri 19 Maluku Tengah dibagi ke dalam tujuh pojok belajar interaktif.

Berbeda dengan pembelajaran formal di ruang kelas, kegiatan di Pantai Naira dirancang melalui permainan edukatif, olah seni, dan aktivitas yang mendorong kemampuan berpikir kritis. Para siswa diajak memahami konsep matematika dan literasi dengan memanfaatkan lingkungan alam sebagai media pembelajaran.

Kegiatan ini didampingi relawan terlatih Yayasan Elphidos yang dipimpin Pendeta Alda Mual, dengan Boby Nahumury sebagai pengajar utama.

Yayasan Elphidos, yang berdiri sejak 2012, mengembangkan pendidikan nonformal dengan penekanan pada pembangunan karakter, moral, dan kemampuan literasi anak sejak usia dini. Melalui pendekatan belajar sambil bermain, para siswa didorong untuk berani berinteraksi, mengasah nalar kritis, serta mengembangkan kepekaan seni.

Metode pembelajaran tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi para guru untuk memperkaya pendekatan pedagogi di sekolah.

Baca Juga  BAPETEN Tegaskan Belum Ada Izin Resmi Pembangunan PLTN Terapung di Maluku Utara

Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah pembuatan perahu layar sederhana dari pelepah sagu atau gaba-gaba dan daun-daun kering.

Dengan telaten, para siswa merangkai pelepah sagu menjadi badan perahu, kemudian menggunakan daun kering sebagai layar. Perahu-perahu kecil itu tidak sekadar menjadi hasil kreativitas, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan tentang cita-cita dan harapan masa depan.

Setelah selesai dibuat, seluruh perahu kemudian dilarungkan di tepian Pantai Naira. Ombak perlahan membawa perahu-perahu tersebut menjauh dari bibir pantai, menjadi simbol perjalanan impian anak-anak Aboru yang diharapkan mampu melintasi batas-batas geografis dan meraih masa depan yang lebih luas.

Tiga perwakilan siswa, Yuni Perloy, Steifanny Teterisa, dan Wendel Sinay, menyampaikan rasa terima kasih atas pengalaman belajar yang mereka peroleh.

“Kami sangat bersyukur atas ilmu dan pengalaman baru yang diberikan hari ini. Ini bukan sekadar permainan, tetapi bekal dan pemantik semangat bagi kami untuk terus belajar menatap masa depan,” ungkap mereka.

Gerakan Anak Perantauan dan Sinergi Filantropi untuk Pendidikan Aboru

Bagi Komunitas Buku voor Aboru, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda sosial sesaat, melainkan bagian dari tanggung jawab moral anak-anak negeri yang berada di perantauan.

Berawal dari inisiatif sejumlah pemuda Aboru di Jakarta, BVA berkembang menjadi gerakan pendidikan yang secara konsisten berupaya mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di kampung halaman.

Baca Juga  HUT ke-36 Halteng, Ikram Apresiasi Ubaid atas Dibukanya Jalan Ekor-Kobe

Selain menggelar pelatihan literasi bagi siswa, guru, dan pengasuh Sekolah Minggu, komunitas ini juga memberikan beasiswa perguruan tinggi bagi anak-anak Aboru berprestasi. BVA turut memfasilitasi sertifikasi vokasi bagi lulusan S1 hingga membantu siswa potensial memperoleh kesempatan pendidikan di sekolah internasional di Jakarta.

Salah satu pendiri BFA, John Nahumury, yang merupakan putra asli Aboru dan kini bekerja di salah satu perusahaan Jepang di Jakarta, rela menempuh perjalanan lintas provinsi untuk hadir dan berkontribusi langsung di tanah leluhurnya.

“Sebagai anak-anak negeri yang berada di perantauan, kami merasa memiliki tanggung jawab moral bersama. Di mana pun kami berada, kami tidak boleh lupa untuk kembali dan memberi warna bagi masa depan pendidikan di Aboru,” ujar John.

Semangat serupa juga ditunjukkan George Alain Garot Akihary, relawan Yayasan Beta Tahija berdarah campuran Jerman-Aboru. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman emosional baginya karena untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tanah leluhurnya.

Di hadapan para siswa, George mengingatkan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi dapat diperoleh dari lingkungan dan pengalaman sehari-hari.

“Belajar itu tidak hanya terbatas di dalam empat dinding kelas. Jangan pernah menutup diri. Kita bisa belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Namun ingat, jika sudah waktunya belajar, belajarlah dengan sungguh-sungguh karena dunia di luar sana penuh persaingan. Berikanlah selalu yang terbaik untuk membanggakan orang tua dan mengharumkan nama Negeri Aboru,” pesannya.

Baca Juga  Pengurusan Kredit Pensiunan Guru di Malteng Bermasalah, Kuasa Hukum Adukan Oknum Pegawai BNI ke Polisi

Program ini juga mendapat dukungan Yayasan Tahija atau Tahija Foundation, organisasi filantropi yang didirikan Jean dan Julius Tahija pada 21 Maret 1990. Melalui jejaring Beta Tahija, yayasan tersebut turut mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia di wilayah kepulauan Maluku.

Keterlibatan para guru dari SMP Negeri 39 dan SMA Negeri 19 Maluku Tengah menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mereka memperoleh inspirasi mengenai metode pembelajaran yang lebih inklusif, kreatif, dan berorientasi pada pengembangan potensi serta karakter peserta didik.

Para pendidik juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah maupun relawan. Peran orang tua tetap menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang dan keberhasilan belajar anak.

Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Aboru dengan melibatkan orang tua siswa secara lebih aktif.

Dari Pantai Naira, pesan pendidikan itu menemukan maknanya sendiri. Pelepah sagu yang dirangkai menjadi perahu dan kemudian dilarungkan ke laut menjadi gambaran sederhana tentang harapan generasi muda Lealohi Samasuru.

Melalui kolaborasi anak-anak perantauan, lembaga filantropi, tenaga pendidik, dan masyarakat, Aboru sedang membangun ruang bagi generasi yang lebih percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan akar budaya serta identitas negerinya.

(Maichel Koipuy)

Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com