Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Dari dinginnya ruangan berpendingin udara ke terik jalanan yang menyengat. Dari aroma parfum yang memenuhi ruang nyaman ke aroma keringat yang bercampur di tengah kerumunan. Reza Rahadian meninggalkan sejenak dunia gemerlap yang mengenalnya, lalu berdiri bersama mahasiswa dan aktivis yang sedang menyuarakan kegelisahan. Ada jarak yang ditempuh di sana—bukan hanya jarak dari ruang ke jalan, melainkan dari kenyamanan menuju keberanian mengambil posisi.
Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Reza kembali terlihat di tengah demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Ia berbaur dengan massa, berbincang, dan mendengarkan aspirasi mereka. Wanda Hamidah menyuarakan keberpihakannya melalui poster bertuliskan Silence is Violence. Sementara itu, Zaskia Adya Mecca memilih membantu dari belakang barisan, mengorganisasi dukungan logistik dan kebutuhan medis bagi para demonstran.
Mereka datang dengan cara berbeda, tetapi memperlihatkan satu hal yang sama: kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui orasi. Ada yang hadir untuk mendengarkan, ada yang menyampaikan protes, ada pula yang memastikan orang-orang di lapangan tetap memiliki makanan, minuman, dan pertolongan ketika dibutuhkan. Di tengah ketegangan demonstrasi, solidaritas kadang-kadang justru tampak melalui tindakan sederhana yang tidak banyak mencari perhatian.









