Polda Maluku tidak sendiri bekerja, namun menggandeng sejumlah pihak terkait seperti penyelenggara pemilu yakni KPU maupun pengawas yaitu Bawaslu Maluku, serta stakeholder lainnya.
“Patroli cyber gencar kami lakukan selama 1×24 jam. Di tahap pilkada sampai saat ini kami masih belum menemukan akun-akun yang bersifat ujaran kebencian, provokatif, dan menyebarkan berita hoaks,” sebutnya.
Iptu Sofia juga mengajak masyarakat untuk bijak dalam menggunakan sosial media, yaitu tidak menyebarkan berita hoaks yang dapat mencederai keamanan, dan kedamaian, saat Pilkada di Maluku.
“Kami mengajak masyarakat juga melalui media sosial melalui meme sehingga diharapkan Pilkada dapat berjalan aman, damai dan sejahtera,” tegasnya.
Sementara itu, Plt. Kadis Infokom Kota Ambon, Ronald Lekransy, mengungkapkan pengaruh digital di Maluku sangat masif karena secara Nasional penetrasi internet oleh masyarakat Indonesia kurang lebih di atas 65%. “Dan kita di Maluku di atas 56% artinya ruang digital ini sangat masif untuk dimanfaatkan sebagai sarana interaksi,” ucapnya.
Secara teknis, dinas Infokom kota Ambon memiliki command center yang menjadi pusat kendali informasi. Di samping melaksanakan pengawasan terhadap banyak hal di kota ini, salah satunya adalah melaksanakan pengawasan di media sosial. “Selain itu juga masyarakat dapat berkomunikasi dengan command center melalui call center dan aplikasi Omi Channel,” jelasnya.











