Porostimur.com, Teheran – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Peneliti senior Middle East Institute, Ross Harrison, menilai Presiden Donald Trump telah melakukan kesalahan perhitungan dalam merespons sikap Iran.
Harrison menyebut Trump “secara konsisten terkejut” terhadap respons Iran, baik dalam proses diplomasi maupun saat eskalasi konflik berlangsung.
“Di meja perundingan, Trump terkejut Iran tidak menyerah. Bahkan setelah [AS dan Israel] membunuh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dia juga terkejut rezim tersebut tidak runtuh,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Selat Hormuz Jadi Kunci Tekanan
Harrison menilai kesalahan kalkulasi tersebut berpotensi memicu eskalasi lebih besar, terutama karena Iran kini memainkan strategi yang lebih kompleks.
Menurutnya, fokus eskalasi tidak lagi sekadar serangan langsung ke Israel atau pangkalan militer AS, melainkan bergeser ke pengendalian jalur strategis global.
“Iran telah menetapkan titik baliknya di Selat Hormuz,” katanya.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan akan berdampak besar terhadap ekonomi global.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Pernyataan Harrison diperkuat dengan sikap militer Iran. Juru bicara militer, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz menjadi opsi nyata jika AS melancarkan serangan terhadap infrastruktur vital Iran.









