“Hayo … senyum senyum, itu Arjunanya sudah di depan, sana berangkat” Ternyata pak Naryo sedari tadi memperhatikan aku, Aku pamit dan berlalu pergi.
Hampir setiap pertemuan rutin Fasilitator sekecamatan Arif selalu ada untuk mengantar dan menjemputku, Sepertinya teman teman menganggap kami memiliki hubugan spesial, padahal tidak pernah sekalipun Arif mengatakan hal hal yang spesial, sebenarnya aku canggung tapi selalu saja kebaikan dan perhatian Arif membuat aku selalu merasa nyaman berada di dekatnya, Astaghfirullah… perasaan apa ini, semoga aku tak terlena…
Juli 2005
Setahun berlalu sejak pertama kali aku menjadi Fasilitator di desaku, sayang sekali kontrakku hanya satu tahun, jadi bulan lalu aku sudah mengakhiri pekerjaanku di desa. Dan dengan berakhirnya pekejaan ini otomatis aku tidak pernah bertemu lagi dengan Arif.
Bapak memintaku kembali melanjutkan pendidikan yang dulu sempat aku tolak, jadi kali ini aku turuti saja keinginan Bapak, barangkali ini memang yang terbaik untukku. Sudah lama sejak masa kerja fasilitator berakhir, aku sama sekali tak pernah bertemu dengan Arif, aneh juga rasanya, padahal kami satu kecamatan, dan kami sangat akrab, dia bisa saja datang ke rumahku atau menghubungi aku untuk sekedar menanyakan kabar, Arif seperti hilang begitu saja di telan bumi.
Dalam hari kecilku, aku masih berharap suatu saat nanti sosok periang itu akan datang lagi menemui aku, ya semoga saja.









