Bila Masih Ada Waktu

oleh -19 views

Cerpen Karya: Ratna Fauziyah

AKU mantapkan langkahku menuju aula gedung pertemuan seperti yang diinstruksikan pak Kades, baru pertamakali aku mengikuti kegiatan seperti ini, aku hanyalah anak SMA yang baru saja menamatkan pendidikanku, tidak ada pengalaman apapun dalam keseharianku, terlebih untuk kegiatan yang berbau kemasyarakatan, Aku didaulat untuk menjadi Fasilitator di Desaku, pekerjaannya tidak terlalu sulit, hanya menjembatani kegiatan kegiatan di desa dengan pihak Kecamatan, dan bantu bantu di balai desa kalau dibutuhkan, Pak Kades bilang namanya juga mencari pengalaman, dicoba saja dulu, akupun manut saja, yah… apa salahnya untuk dicoba.

Langkahku terhenti di pintu masuk, celingukan kesana kemari mencari cari siapa tahu ada orang yang aku kenal, canggung juga rasanya berada di lingkungan asing.

“Mba Ulfa ya?” ada yang menyentuh bahuku dari belakang, aku menoleh kaget, seorang ibu muda dengan senyum yang mengembang sudah berdiri di belakangku.
“Eh iya Bu, saya Ulfa, utusan dari Desa Banjar” aku mengangguk dan menyalaminya.
“Saya bu Endah, dari tim Pengelola Kecamatan, silakan duduk mba Ulfa, santai saja nanti mba Ulfa bisa kenalan dengan teman teman dari desa lain” Ucap bu Endah lembut.
Aku mengiyakan dan bergegas mencari tempat duduk di antara orang orang yang sama sekali tidak kukenal, aku hanya melempar senyum setiap kali mereka menengok ke arahku.

“Selamat datang mba Ulfa, selamat bergabung dengan teman teman, semoga bisa bekerjasama dengan baik, Oh iya teman teman, mba Ulfa ini masih gadis lho, masih gress” Tiba tiba pembicara yang duduk di depan menyambutku lewat pengeras suara, yang kemudian disambut siulan dan tepukan ketika kalimat terakhir terlontar, aku kaget dan malu sekali, mungkin saja saat itu wajahku sudah berwarna merah abu abu.

Aku menuju sebuah kursi kosong dan duduk di atasnya, berusaha mendengarkan yang disampaikan oleh pembicara, seseorang yang duduk di depanku menyeret kursinya ke belakang, dan menghentikannya tepat di sampingku, seorang pria bertubuh kerempeng mengulurkan tangannya
“Hai Ulfa, namaku Arif, kamu itu baru lulus SMA ya?” tanyanya tanpa basa basi, Aku menyambut uluran tangannya
“Eh Iya Mas,kok tahu aku baru lulus SMA” ujarku
“Kelihatan kok” katanya sambil megembangkan senyum

Tidak butuh waktu lama, aku segera akrab dengan pemuda satu ini, pembawaannya yang ramah dan lucu membuat aku merasa enak saja ngobrol banyak hal dengannya, apalagi belakangan aku tahu kalau dia alumni sekolah yang sama denganku, aku merasa akhirnya ada seseorang yang tidak lagi asing.

“Aku antar pulangnya ya” ucapnya mengagetkanku di akhir pertemuan hari ini.
“Oh, itu… nggak usah Mas, aku pulang sendiri saja naik angkot” kataku
“Sebenarnya aku ingin tahu rumah kamu di mana, supaya nanti kalau ada acara lagi, aku bisa jemput ke rumah” katanya sembari tersenyum
“Lain kali saja ya” aku menggeleng pelan
Sepertinya dia memahami penolakanku, dia mengangguk dengan senyum khasnya, akupun berlalu meninggalkannya.

“Bagaimana acaranya tadi Fa?, lancar? kamu betah nggak?“ Ibu memberondongku dengan pertanyaan sambil tangannya mengelap piring dari tempat cucian.
“yah begitu Bu, namanya juga baru pertama kali, mungkin masih butuh banyak penyesuian“ aku menyeringai
“Baguslah, mudah mudahan tidak ada kesuliatan nantinya ya, kalaupun ada semoga kamu bisa mengatasinya” Ibu mengelus punggungku dengan lembut.

Ibu benar, sejak kecil hidupku memang lempeng lempeng saja, tidak pernah aku menemukan masalah yang begitu berarti, di sekolah, di rumah ataupun di ingkungan tempat tinggalku, sepertinya ibu cukup khawatir jika suatu saat di tempat kerja aku menghadapi masalah apa aku bisa mengatasinya atau tidak.

“Malah melamun, sudah sana piringnya dibawa keluar, Bapak dan adikmu sudah menunggu di meja makan” Ibu kembali mencolek bahuku.

Ponselku berdering, sebuah nama terpampang di Notifikasi panggilan “Arif”, aku membiarkannya hingga berdering kembali untuk yang kedua kali, dan ketiga kalinya, Pak Naryo salah seorang staf di balai desa meledekku.
“Nggak diangkat mba Ulfa, kasihan itu pacarnya sudah mau ngobrol”
Aku tersipu, Pak Naryo suka ngarang nih, terpaksa aku angkat juga

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, Fa kamu nggak lupa kan hari ini jadwal pertemuan rutin Kecamatan” sahut suara di seberang sana.
“Ngga kok Mas, ini mau berangkat”
“Aku jemput ya”
“Eh nggak usah, aku naik angkot saja”
“Hari ini tempat pertemuannya di desa Tlaga, itu jauh lho, nggak ada angkutan ke sana”
Aku terdiam sejenak ada benarnya juga, tapi aku sedikit ragu, aku tidak terbiasa dibonceng laki laki asing, apalagi dia orang yang baru saja aku kenal
“Mmmm… nanti saja ya Mas, aku coba cari angkutan dulu”
“Hei, ngapain cari angkutan, aku sudah ada di depan kantor Fa..”
“Masyaallah…” kulongokkan kepala ke luar jendela, dan ternyata benar, dia sudah berdiri di samping motor, dia niat sekali ternyata, aku tersenyum sendiri.

“Hayo … senyum senyum, itu Arjunanya sudah di depan, sana berangkat” Ternyata pak Naryo sedari tadi memperhatikan aku, Aku pamit dan berlalu pergi.

Hampir setiap pertemuan rutin Fasilitator sekecamatan Arif selalu ada untuk mengantar dan menjemputku, Sepertinya teman teman menganggap kami memiliki hubugan spesial, padahal tidak pernah sekalipun Arif mengatakan hal hal yang spesial, sebenarnya aku canggung tapi selalu saja kebaikan dan perhatian Arif membuat aku selalu merasa nyaman berada di dekatnya, Astaghfirullah… perasaan apa ini, semoga aku tak terlena…

Juli 2005
Setahun berlalu sejak pertama kali aku menjadi Fasilitator di desaku, sayang sekali kontrakku hanya satu tahun, jadi bulan lalu aku sudah mengakhiri pekerjaanku di desa. Dan dengan berakhirnya pekejaan ini otomatis aku tidak pernah bertemu lagi dengan Arif.

Bapak memintaku kembali melanjutkan pendidikan yang dulu sempat aku tolak, jadi kali ini aku turuti saja keinginan Bapak, barangkali ini memang yang terbaik untukku. Sudah lama sejak masa kerja fasilitator berakhir, aku sama sekali tak pernah bertemu dengan Arif, aneh juga rasanya, padahal kami satu kecamatan, dan kami sangat akrab, dia bisa saja datang ke rumahku atau menghubungi aku untuk sekedar menanyakan kabar, Arif seperti hilang begitu saja di telan bumi.
Dalam hari kecilku, aku masih berharap suatu saat nanti sosok periang itu akan datang lagi menemui aku, ya semoga saja.

April 2007
“Ulfa, kamu kenal Pakdhe Imron kan?” Bapak membuka percakapan saat kami sekeluarga santai menonton tayangan televisi.
“Pakdhe Imron teman Bapak yang guru SD itu kan Pak? iya kenal kenapa,?” jawabku
“Kemarin Bapak bertemu pakdhe Imron sama putranya waku Bapak pulang, Bapak pangling lihat putranya itu, sudah lama sekali nggak ketemu”
“Mas Ifan maksudnya Pak? yang dulu kuliah di Bandung?” sahutku
“Iya, sekarang katanya sudah ngajar di SMA, sambil buka fotocopian di dekat rumahnya”
“Oh…”
“Mba Ulfa kan dulu fans beratnya mas Ifan Pak” tiba tiba adikku menyahut sambil melirikku
Aku mendelik kesal, Ibu dan Bapak tertawa geli.

Di luar dugaan beberapa hari kemudian Pakdhe Imron dan keluarganya datang berkunjung, sepertinya Bapak dan Pakdhe memang sudah merencanakan semuanya, mereka sengaja mempertemukan aku dan mas Ifan agar saling mengenal lebih dekat.

Aku sungguh melihat betapa Bapak dan Ibu berharap aku menyetujui keinginan mereka untuk menyatukan aku dan mas Ifan.
“Ifan itu laki laki yang sholeh, lembut dan mau bekerja keras, Bapak berharap laki laki seperti itulah yang akan menggantikan Bapak untuk melindungi kamu nantinya, kalau kamu setuju tidak usah lama lama, kamu menikah saja secepatnya” seperti biasa Bapak selalu mengusap kepalaku dengan lembut, aku menoleh pada Ibu, dan kulihat senyum simpul Ibu seolah menguatkan pernyataan Bapak.
“Aku kan masih kuliah Pak” aku berkata lirih
“Kuliah sambil jadi istri kan bisa Fa” Ibu menimpali

Menikah? meskipun aku sangat mengenal calon suamiku dan keluarganya namun ikatan pernikahan sungguh jauh diluar pemikiranku, apalagi aku dan mas Ifan sama sekali tidak pernah punya kedekatan sebelumnya, apa bisa aku menjalani biduk rumah tanggan dengannya nanti, pernikahan adalah perjanjian yang berat, bukan perkara main main.

Masyaallah, hatiku gundah memikirkannya aku sungguh tidak yakin dengan rencana pernikahan ini, namun ada kebahagiaan Ibu dan Bapak yang selalu ingin aku lihat setiap waktu.

Aku minta waktu untuk memikirkannya, aku butuh bercerita panjang lebar dengan Rabb ku untuk memohon keputusan terbaikNya.
Hingga akhirnya akupun menyetujuinya, aku akan menerima pinangan dari keluarga mas Ifan, betapa aku melihat binar kebahagiaan di mata kedua orangtuaku saat aku sampaikan jawabanku ini.

November 2007
Sebuah motor yang tidak asing sudah terparkir di pekarangan rumah saat langkah kakiku memasuki halaman, aku sangat hafal motor ini sampai ke detil terkecilnya, seketika jantungku berdegup dengan sangat kencang, mas Arif..

“Assalamualaikum” aku memasuki rumah dengan langkah gontai
“Waalaikumsalam” mereka menjawab salamku bersamaan
Benar saja sosok itu tengah duduk di ruang tamu ditemani Ibu dan Bapak.
“Nak Arif, Bapak tinggal dulu ya, silakan dilanjutkan ngobrolnya sama Ulfa”
“Iya Pak” Mas Arif mengangguk pelan
Ibu sempat mengedipkan mata memberi isyarat padaku sebelum beranjak pergi, aku paham, aku sudah dikhitbah.

“Sudah lama Mas?” aku mulai membuka percakapan
“Lumayan Fa, sudah cukup lama untuk mendengarkan cerita tentang kamu dari Bapak dan Ibu, lengkap” tuturnya
“Lama sekali mas Arif tidak memberi kabar”
“Iya”
Aku mendongak, hanya sepatah kata itu yang diucapkannya, tidak adakah pembelaan?

“Mas Arif kemana saja selama ini? kenapa tidak pernah ada kabar sama sekali?” aku memberondongnya dengan pertanyaan
Dia menunduk dalam
“Aku tidak kemana mana Fa, aku di rumah, sebuah kecelakaan menimpaku beberapa saat setelah aku pulang wisuda sebulan setelah pekerjaan kita selesai, tadinya aku ingin memberi kejutan untuk kamu Fa, tapi rupanya Allah bekehendak lain”
Wisuda? aku bahkan baru tahu kalau mas Arif adalah seorang mahasiswa.

“Ponselku hilang saat kecelakaan itu terjadi, padahal semua kontak ada di ponsel itu, tiga bulan aku terbaring di rumah sakit, sembilan bulan lamanya aku masih harus berjuang dengan kursi roda, dan satu tahun lebih aku masih menggunakan bantuan kruk untuk berjalan, aku bersyukur masih diberi hidup oleh Allah, aku malu menemui kamu Fa, satu bulan ini aku baru bisa berjalan lagi meskipun belum sepenuhnya normal, aku ingin bertemu kamu, tapi sepertinya ini pertemuan kita yang terakhir kalinya”

Tidak terasa butiran bening membasahi kelopak mataku.
“Mengapa mas Arif begitu egois, mengapa menyimpan duka sebesar itu untuk sendiri saja, mengapa tidak mau membagi sedikit saja denganku?”
Kutatap mata beningnya yang berkaca kaca, dia masih menunduk
“Tapi tidak apa apa, memangnya aku ini siapanya mas Arif” sambungku perlahan
“Maafkan aku Fa, aku yakin meskipun tak terucap kamu pasti tahu perasaanku, seperti akupun tahu perasaanmu, tapi soal jodoh, bukankah itu diluar kehendak kita” kutata perasaanku mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkannya
“Semua hanya soal waktu, aku ikhlas Fa, waktu yang berlalu yang akan membuat aku ikhlas dengan sendirinya, semoga kamu selalu bahagia” sambungnya
“Aku juga minta maaf Mas” mas Arif mengangguk lemah tapi senyum khasnya tak lekang dari sudut bibirnya.
“Aku pamit dulu ya Fa, sudah sore” aku hanya mengangguk
Kuantarkan dia sampai pintu depan, menstater motornya lalu menghilang dari pandanganku.

Mas Arif benar, semua hanya tentang waktu, dan waktu jualah yang akan menghapus jejaknya dari hatiku, karena akan ada sosok baru yang telah siap menggantikannya, aku menutup lembaran lama dengannya untuk membuka lembaran baru dengan orang lain yang mungkin saja memang dipilihkan Allah untuk diriku, maafkan aku mas Arif, semoga kamu pun bahagia. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.