Karena Gelap & Tiga Puisi Lain Nuriman Bayan

oleh -24 views

SEJARAH KITA

Sejarah kita adalah sejarah perahu, sejarah kita adalah sejarah kebun. Apakah masih mendarah di dalam dada, wangi arus, wangi ikan, dan wangi ombak, wangi cengkeh, wangi coklat, wangi pala, dan wangi kelapa?

Tanah-tanah terjual dan tergusur untuk apa, untuk siapa? Daratan didorong ke laut, perahu-perahu kehilangan pantai, untuk apa, untuk siapa? Jika untuk hidup, hidup siapa? Jika untuk peradaban, peradaban siapa? Sedangkan di tengah pembangunan yang tumbuh subur, kita masih saja menjadi bubur.

Jujurlah! Sebelum kita terbujur dan orang-orang datang mengubur, sebab Tuhan masih memberi umur.

2022.

=======

DI ANTARA DUA SELAT

Aku berdiri di antara dua selat
di kepala memang ada dua ibu
dalam dada satu langit satu laut
mereka selalu biru
kapan dan di mana pun aku berada

hijau dan biru dalam dada
tak akan terganti warna apa pun
sungai yang ditumbuhi pohon-pohon
akan kembali bening
meski hujan berhari-hari mengaliri.

Aku berdiri di antara dua selat
cinta yang aku percaya selalu berdaya
cahayanya menyala-nyala
seperti rindu di dalam dada.

2022.

=======

KARENA GELAP

Jika ada yang datang terlambat, maka ia adalah gelap
jika kita datang dan ia menghambat, maka ia adalah gelap

gelap, kadang membuat tidur kita tak lelap
gelap, kadang membuat hidup kita tak genap

tapi karena gelap, kita melihat bintang-bintang lebih terang
tapi karena gelap, lampu ayah di kejauhan jadi terang-menderang
tapi karena gelap, lampu-lampu jatuh jadi ikan dan ibu jadi tenang
tapi karena gelap, kita jadi tahu di cahaya mana kita harus bernaung
tapi karena gelap, malam-malam gulita jadi pelita selalu kita kenang.

2022.

========

PUISI KECIL BUAT TAN

Kita pergi meninggalkan teluk saat bulan bulat sepanjang laut dan angin selatan berhenti mematahkan daun soki ketapang dan kelapa. Kita pergi sebelum pantai pagi rekah dan malam-malam mulai cerah. Kita pergi sebelum rindu tuntas di laut dan lampu padam sebelum larut. Kita pergi sebelum perahu-perahu kembali dari telaga dan berlabuh di kuala.

Kita pergi membawa wangi angin wangi hujan wangi arus dan wangi ombak dari sebuah teluk yang sejuk. Kita pergi membawa wangi ayah wangi ibu wangi saudara wangi telaga dan kuala yang tak ingin kita lepas dari peluk. Lampu-lampu yang menyala di sana adalah malam-malam yang padam di sini.

Bila suatu saat aku kembali berpaling, maka perempuan itu bukan lagi puisi. Ia adalah lautan yang bertahun-tahun menyusuimu. Ia adalah lautan yang mengajari kita tentang arti langit biru. Ia adalah lautan yang mengajari kita tentang arti cinta.

Maka menyerahlah bila saatnya tiba, sebab rindu adalah ombak dan pantai adalah cintanya.

2022.

======

No More Posts Available.

No more pages to load.