Porostimur.com, Jakarta – Pengembangan Blok Masela di Laut Arafura dinilai tidak sekadar akan mengubah wajah ekonomi Maluku, tetapi berpotensi menggeser peta geopolitik dan energi kawasan hingga tingkat global.
Dengan cadangan gas yang sangat besar dan proyeksi operasi penuh pada 2029, Blok Masela berpeluang menjadikan Laut Arafura sebagai salah satu episentrum baru energi dunia. Namun, peluang tersebut juga menyimpan risiko: Maluku hanya menjadi pemasok bahan mentah sementara pusat industri dan nilai tambah justru tumbuh di wilayah lain.
Direktur Archipelago Solidarity Foundation Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, mengatakan Indonesia harus segera menyiapkan langkah strategis agar keberadaan Blok Masela tidak berhenti pada kegiatan ekstraksi dan ekspor gas.
“Pengembangan Blok Masela akan menghadirkan sebuah episentrum ekonomi baru di kawasan pivot area yang menghubungkan tiga titik strategis, yakni Laut Arafura dengan Blok Masela, Laut Timor dengan Darwin, Australia, dan kawasan Pasifik Selatan dengan ladang LNG di Papua Nugini,” kata Engelina kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi gas yang sangat besar. Blok Masela diperkirakan memiliki cadangan sekitar 18,54 triliun kaki kubik (TCF), disusul Blok Ichthys di Australia sekitar 12,8 TCF, Greater Sunrise sekitar 8,35 TCF, Barossa sekitar 5,1 TCF, serta Bayu-Undan sekitar 3,4 TCF yang saat ini berstatus tidak aktif.









