Sementara Maluku Barat Daya (MBD) dapat diarahkan sebagai sabuk logistik dan energi terdekat. Maluku Tenggara dikembangkan sebagai hub maritim dan transportasi udara, sedangkan Kepulauan Aru dapat berperan dalam menopang rantai pasok maritim dengan kekuatan sektor perikanannya.
Pada saat yang sama, potensi minyak dan gas di Seram Timur dan Maluku Tengah, termasuk Bula dan Non-Bula, Blok Binaya, hingga potensi blue cobalt di Taman Nasional Manusela (TNS) dan deep-sea mining, menurut Engelina, perlu ditempatkan dalam satu peta jalan pembangunan ekonomi Maluku.
Dengan demikian, Blok Masela tidak berdiri sebagai proyek yang terisolasi, tetapi menjadi pusat dari ekosistem industri dan ekonomi baru berbasis sumber daya lokal.
Masela Jangan Jadi “Resource Curse” Baru
Engelina juga mengingatkan aspek historis yang menurutnya penting menjadi pelajaran dalam mengelola kekayaan alam Maluku.
Pada era VOC (1602–1799), Maluku pernah menjadi episentrum perdagangan rempah-rempah dunia. Kini, dengan kekayaan gas yang dimiliki, Maluku kembali memiliki peluang menjadi salah satu pusat gravitasi energi global.
Namun, sejarah tersebut juga meninggalkan warisan kolonialisme.
Karena itu, menurut Engelina, pengelolaan sumber daya alam di Maluku tidak boleh mengulang pola lama dalam bentuk baru.









