“Kalau bisa berkontribusi untuk kebaikan kota ini, jangan justru merusak kota ini. Kalau pemerintah sementara berupaya menjaga keberagaman, jangan jadi provokator,” tegasnya.
Ia mengingatkan, pihak-pihak yang sengaja menciptakan kekacauan dan merusak kehidupan bersama justru akan meninggalkan catatan buruk dalam sejarah Kota Ambon.
“Orang yang bikin kacau dan bikin rusak itu menjadi beban bagi sejarah kota ini, bukan menjadi pelaku sejarah yang baik,” katanya.
Kritik Pemerintah Tetap Diperlukan
Di sisi lain, Bodewin menegaskan pemerintah tidak menutup ruang bagi masyarakat, mahasiswa maupun pemuda untuk menjalankan fungsi kontrol.
Kritik, menurutnya, merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara etis, objektif dan berdasarkan data serta fakta.
“Kalau pemimpin di kota atau provinsi ini bekerja belum maksimal, ingatkan dengan etis. Mengkritisi dan menginterupsi sangat baik, tetapi caranya juga harus baik dan elegan,” ujarnya.
Ia mengatakan kritik yang dibangun berdasarkan fakta justru dapat menjadi masukan penting untuk memperbaiki penyelenggaraan pemerintahan.
Sebaliknya, informasi yang belum terverifikasi dan sengaja disebarkan melalui ruang publik berpotensi menciptakan kegaduhan serta memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.









