Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Publik ternyata menyimpan sesuatu. Bukan hanya berita, tetapi juga kesan; bukan hanya pernyataan, tetapi juga ekspresi; bukan hanya perdebatan, tetapi juga rasa jengkel. Semuanya seperti masuk ke dalam sebuah tabungan emosi. Dan ketika seorang tokoh yang selama ini membuat publik sebal kemudian tersandung persoalan, tabungan itu seperti dicairkan.
Nama itu Nusron Wahid. Sebelum dikenal sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional—ATR/BPN—pada Kabinet Merah Putih, ia lebih dahulu dikenal sebagai politisi Golkar yang cukup sering muncul dalam perdebatan televisi. Ia bukan tipe politisi yang datang ke layar untuk sekadar menyampaikan pendapat. Ia datang dengan gaya yang mudah dikenali—tegas, konfrontatif, dan kadang membuat lawan bicara maupun penonton ikut menahan napas.
Ada wajah yang menjadi bagian dari ingatan publik tentang dirinya. Mata yang melotot, mulut yang dimonyongkan; ndomble, suara yang meninggi ketika berdebat. Entah itu memang gaya alamiahnya atau bagian dari cara memainkan panggung politik, publik telanjur mempunyai tafsir sendiri. Nusron menjadi sosok yang mudah dikenali, tetapi sekaligus mudah mengundang rasa sebal.
Dalam politik televisi, menjadi disukai bukan satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian. Kadang justru sebaliknya. Seorang politisi bisa menjadi populer karena ia berhasil membuat orang tidak suka. Namanya terus disebut, potongan pernyataannya beredar, ekspresinya diingat. Ia menjadi semacam aktor antagonis yang tidak perlu dicari penonton karena acap muncul di layar mereka.









