BPS, Bank Dunia, dan UMIC: Evolusi Kemiskinan Baru Indonesia

oleh -41 Dilihat
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Tetapi membuang angka 68,3 persen hanya karena bukan angka BPS sama kelirunya. Setelah Indonesia menjadi UMIC, pertanyaannya memang harus ikut naik kelas. Bukan lagi hanya berapa banyak orang yang berhasil kita angkat melewati kebutuhan minimum, tetapi berapa banyak yang sudah berada cukup jauh dari garis itu sehingga satu musibah tidak segera menjatuhkan mereka kembali.

Bayangkan sebuah keluarga. Ayah bekerja, ibu mempunyai penghasilan tambahan, anak-anak sekolah. Ada sepeda motor, kulkas dan telepon pintar. Televisinya mungkin bahkan lebih besar daripada meja makan. Menurut ukuran kemiskinan nasional, mereka bukan keluarga miskin.

Sampai suatu pagi ayah terkena PHK. Atau ibu sakit cukup lama, anak masuk universitas, harga beras melonjak, warung kehilangan pembeli, atau sawah gagal panen. Tabungan yang sedikit mulai dikuras. Emas kecil milik ibu dijual. Kemudian motor. Sesudah itu datang pinjaman.

Baca Juga  Pemda Halbar Evaluasi Bank yang Persulit Pemdes Tarik Dana Desa, Tahun Depan Bisa Satu Bank

Kemarin keluarga itu tidak miskin. Hari ini baru terlihat bahwa mereka ternyata juga belum aman. Keluar dari kemiskinan tidak selalu berarti telah bebas dari ancaman kemiskinan.

Di titik inilah Amartya Sen masih sangat berguna. Pembangunan tidak cukup dibaca dari pendapatan. Yang menentukan adalah kemampuan nyata manusia menjalani kehidupan yang bernilai: sehat, memperoleh pendidikan, mempunyai pekerjaan layak, membuat pilihan, dan tidak terus-menerus hidup beberapa sentimeter dari jurang.

No More Posts Available.

No more pages to load.