Bulan Oktober Ekonomi RI Resesi, Begini 3 Faktanya

oleh -29 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Kondisi perekonomian Indonesia dipastikan resesi. Hal itu menyusul Kementerian Keuangan memproyeksikan ekonomi nasional berada di level negatif. Proyeksi angkanya berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%.

Sementara proyeksi angka satu tahun penuh berada di kisaran minus 1,7% sampai minus 0,6%. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut. Realisasi ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 minus 5,32%. Berikut fakta-fakta ekonomi Indonesia resesi:

1. Pertumbuhannya Minus

Ekonomi Indonesia masuk jurang resesi sudah dipastikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia bilang proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%. Sementara untuk seluruh tahun 2020 berada di kisaran minus 1,7% sampai minus 0,6%.

Dengan begitu, ekonomi Indonesia masuk jurang resesi. adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut. Realisasi pertumbuhan ekonomi nasional sendiri sudah minus 5,32% pada kuartal II-2020.

Link Banner

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan sulit bagi ekonomi Indonesia keluar dari jurang resesi mengingat data-data penunjangnya pun mengalami penurunan.

Baca Juga  Usai Hadiri Pleno KPU, FAM-SAH Langsung Silaturahmi dengan Masyarakat

“Ya, memang dari beragam indikator sulit untuk tidak mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan lolos dari resesi,” kata Yusuf saat dihubungi detikcom, Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Proyeksi ekonomi Indonesia masuk resesi juga datang dari lembaga internasional, seperti World Bank (WB/Bank Dunia). Dalam proyeksi terbarunya, Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia pada 2020 bisa -1,6% sampai -2%.

Angka itu turun dibandingkan outlook Bank Dunia pada Juli yang memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan di nol persen. Ekonomi Indonesia diprediksi baru bisa kembali pulih pada 2021 dengan pertumbuhan 4,4% dan skenario buruk pertumbuhannya hanya mencapai 3%.

2. Tak Perlu Panik

Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami resesi, banyak negara mulai dari yang maju maupun berkembang sudah terlebih dahulu masuk jurang resesi. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut.

Baca Juga  Lionel Messi dan False Nine Ala Ronald Koeman di Barcelona

“Saya kira yang perlu diperhatikan masyarakat, bahwa resesi juga dialami oleh negara lain dan masyarakat tidak perlu panik,” kata Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet seperti dilansir detikcom, Rabu (30/9/2020).

Yusuf mengatakan, saat ini masyarakat di Indonesia hanya perlu menyiapkan dana darurat yang bisa digunakan saat Indonesia benar-benar resesi. Sebab, menurut para ekonom, kondisi tersebut akan berdampak pada pelemahan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bahkan dampak dari resesi ini akan membuat PHK yang sudah terjadi sejak awal pandemi COVID-19 terus berlanjut. Pegawai yang saat ini statusnya dirumahkan dan kena pemotongan gaji pun bisa bernasib lebih buruk.

3. Percepat Realisasi Program PEN

Staf Khusus Menko Perekonomian Reza Yamora Siregar mengatakan pemerintah terus berupaya menekan pelemahan ekonomi melalui percepatan penyerapan anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Baca Juga  Satgas Yonif RK 732/Banau, Laksanakan Panen Raya dan Penanaman Bibit Padi Baru di Kairatu

Menurut dia, percepatan penyerapan ini akan berdampak pada realisasi pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal III-2020. Di dalam program PEN, dikatakan Reza, terdapat program-program yang langsung menyentuh masyarakat khususnya yang terdampak COVID-19.

“Kita monitor ini secara teratur mingguan dan dikoordinasikan di bawah komite penanggulangan COVID-19 dan PEN,” kata Reza.

Selain itu, fokus pemerintah menangani permasalahan di sektor kesehatan pun dengan meningkatkan sosialisasi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan atau 3M. Selain itu, meningkatkan proses testing, tracing, dan treatment atau 3T.

“Jadi PEN yang lebih efektif. Program melawan COVID yang makin diperkuat akan mendorong pemulihan kepercayaan pada sisi konsumen yang akan mendorong sisi produksi dan investasi. Inilah makanya kami optimis dengan pemulihan ekonomi kita,” ungkapnya. (red/dtc)