Indonesia Emas dan Anak Muda yang Cemas

oleh -12 Dilihat
Ansori

Oleh: M. Isa Ansori, Kolumnis, Dosen dan Praktisi Psikologi Komunikasi

Belakangan ini ada satu pertanyaan yang semakin sering mengganggu pikiran saya: mengapa di tengah begitu banyak pembicaraan tentang masa depan, kita justru semakin perlu bertanya apakah anak-anak muda kita baik-baik saja?

Kita sedang menyiapkan Indonesia Emas. Kita berbicara tentang bonus demografi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, sumber daya manusia unggul, dan cita-cita menjadi negara maju. Semuanya penting. Saya pun ingin melihat anak-anak muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, mandiri, produktif, dan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Tetapi, ada sesuatu yang terasa belum selesai dalam percakapan besar itu. Kita begitu bersemangat membicarakan apa yang harus dicapai generasi muda, sementara pertanyaan tentang apa yang sedang mereka rasakan belum memperoleh tempat yang sepadan.

Apakah mereka memiliki cukup kesempatan untuk tumbuh? Apakah mereka merasa dihargai? Apakah mereka mempunyai ruang untuk gagal tanpa kehilangan kepercayaan diri? Apakah mereka bisa membayangkan masa depan tanpa dihantui ketakutan bahwa hidupnya akan selalu tertinggal dari orang lain?

Baca Juga  Bahayakan Keselematan, Mahasiswa Minta Rektor Perbaiki Jalan Berlubang di Kampus Unpatti

Awalnya, semua itu hanya kegelisahan pribadi. Saya melihat kehidupan anak-anak muda di sekitar kita, mendengar cerita tentang sulitnya memperoleh pekerjaan, menyaksikan tuntutan hidup yang semakin berlapis, dan merasakan betapa beratnya menjadi dewasa di tengah dunia yang bergerak begitu cepat.

No More Posts Available.

No more pages to load.