Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan
Indonesia sulit keluar dari kesemrawutan dan mengubah kekayaan serta potensi manusianya menjadi keunggulan karena rapuh pada dua fondasi kehidupan berbangsa: penalaran logis dan penalaran etis.
Kita bukan kekurangan orang pintar atau sumber daya, melainkan kecakapan berpikir secara logis dan ilmiah serta bertindak secara etis. Kita gagal menguji keputusan dengan bukti, memperhitungkan konsekuensi, dan membedakan apa yang menguntungkan dari apa yang benar, serta apa yang sah dari apa yang patut. Inilah dua bentuk illiteracy yang menggerogoti fondasi kehidupan berbangsa.
Krisis penalaran logis tampak sejak ruang kelas. Hasil PISA menunjukkan kemampuan membaca, matematika, dan sains anak-anak Indonesia masih jauh di bawah rata-rata OECD. Ini bukan sekadar soal nilai ujian, melainkan peringatan tentang kemampuan memahami masalah, menguji klaim, menarik kesimpulan berdasarkan bukti, dan memecahkan persoalan nyata. Pendidikan yang gagal membangun kemampuan itu berisiko menghasilkan manusia yang kaya informasi, tetapi miskin kecakapan bernalar; mampu mengulang jawaban, tetapi tidak memahami mengapa jawaban itu benar.
Kelemahan ini berlanjut ke ruang kekuasaan. Kita terlalu sering menilai kebijakan berdasarkan niat, bukan mutu perencanaan dan hasil; berdasarkan janji, bukan bukti; berdasarkan kemegahan gagasan, bukan efektivitas pelaksanaannya.








