oleh

Bushido & Adat Se Atoran

Link Banner

Penulis: Sofyan Daud

Bushido, jalan ksatria Jepang. Sekumpulan nilai etika moral yang menjadi anutan para Samurai.

Link Banner

Jalan ksatria ini semacam kode etik atau standar kebajikan dengan 7 prinsip: Kejujuran (诚 makoto), Kesungguhan (义 gi), Keberanian (勇 yu), Kebajikan (仁 jin), Penghargaan (礼 rei), Kehormatan (名誉 meiyo), Kesetiaan (忠义 chūgi).

Samurai dalam struktur sosial Jepang, memang kasta terpandang hingga menjadi rujukan. Nilai-nilai anutannya dianut juga oleh masyarakat luas.

Bila coba menyelaraskan 7 prinsip Bushido Jepang dengan beberapa prinsip dalam Adat se Atoran Maloku Kie Raha. Kita menemukan kesamaan atau setidaknya kemiripan substansi dan maknawi.

Beberapa prinsip nilai etika Moloku Kie Raha di sini saya merujuk pada kearifan Kesultanan Tidore, tapi hemat saya, memiliki kemiripan dengan ketiga kesultanan lainnya yakni Tetnate, Bacan, dan Jailolo. Begitupun pada beberapa komunitas masyarakat adat besar di Maluku Utara.

Prinsip kejujuran, kebenaran, integritas, selaras dengan “Loa se Banari” (Lurus/adil dan benar).

​Prinsip kesunguhan selaras dengan falsafah “Marimoi Ngone Futuru” (bersatu kita teguh); “O, grecele” (penyeru semangat dan keterpaduan gerak); ungkapan tekad “Oras ne ua si fio yali” (bukan sekarang lantas kapan lagi), “Ngone ua si nage yali” (bukan kita lantas siapa lagi).

​Pinsip keberanian selaras dengan ujaran “Nage fu ngom foli” (siapa jual kami beli), “Ela rai ge ela’, toru aku ua (sudah melangkah, melangkahlah, jangan surut)

​Prinsip kebajikan selaras dengan “Laha ma bang laha, jira ma bang jira” (kebaikan berbalas kebaikan, keburukan berbalas keburukan); suba se paksaan (adab dan tatakrama); budi se bahasa (akhlak dan adab kebahasaan/berbicara)

​Prinsip Penghargaan, selaras dengan “Ngaku se Rasai” (saling mengakui, mengapresiasi dan menyayangi)

​Prinsip kehormatan selaras dengan “Suba se pakasan” (menghormati, menjunjung) “Cing se Cingare” (menghormati dan dihormati).

​Prinsip kesetiaan selaras dengan “Cou, ma cou” (berkontribusi, berdesikasi, mengabdi)

Bushido adalah fundamen kuat identitas kebudayaan dan jati diri bangsa Jepang.

Ia menjadi pemertahanan sekaligus katalis saat Jepang memasuki fase pelik, kritis, pada masa awal Restorasi Meiji.

Ketika restorasi Meiji bermula pada 1868, diawali dengan koreksi total terhadap pemerintahan Jepang di bawah Keshogunan (pemerintahan militer) Tokugawa sejak 1603, dengan kekuasaannya yang dominan, sementara kasisar sendiri hanya menjadi simbol.

Suksesi terjadi. Tampuk kekuasaan Jepang berhasil dikembalikan kepada kekaisaran di bawah pimpinan Mutsuhito (Kaisar Meiji).

Reformasi mendasar dan besar-beaaran mulai dicanangkan. Haluan politik Jepang diubah lebih terbuka dan modern.

Serangkaian reorientasi pun transformasi sosial budaya yang mengacu pada kemajuan Barat digalakkan.

April 1868, ditandangani sebuah piagam untuk membentuk dewan di semua daerah.
Dalam wadah ini hal-hal penting dan strategis dimusyawarahkan bersama.

Disepakati pula,, semua kalangan pada semua level harus bersatu menjalankan kepentingan dan tujuan negara. Pejabat sipil dan militer pusat dan daerah hingga rakyat biasa harus diizinkan melakukan hal-hal yang diinginkan agar mereka tidak bosan. Kebijakan lama yang buruk ditiadakan. Pengetahuan harus dicari hingga ke seluruh dunia untuk memperkuat fondasi kemajuan.

Jepang berhasil meretas jalan baru yang cepat sekali untuk keluar dari ketertinggalan, keterbelakangan dan memasuki fase kemajuan di berbagai bidang; politik, ekonomi, pendidikan, ilmu penetahuan dan teknologi yang menopang industri, hingga militer dan persenjataan.

Kemajuan dan pencapaian Jepang yang memuncak kurang lebih satu abad belakangan bertolak dari restorasi ini. Tak heran bila Jepang pernah menjadi kekuatan militer besar dunia pada Perang Dunia II. Menjadi macan Asia.

Perubahan dan modernisasi yang dibesut degan cepat dan mendasar oleh Meiji, memberi harapan tapi juga kecemasan.

Kalangan konservatif, para pencinta dan pelestari adat tradisi serta identitas kukturaal Jepang, punya ketakutan, jangan-jangan proyek restorasi dapat mencerabuti bangsa Jepang dari akar budayanya.

Ada polemik, ketegangan, perlawanan dan konflik. Jika anda pernah menonton film laga Jepang “Rurouni Kenshin” atau “Samurai X” yang diperankan Takeru Sato cs. Film ini menceritakan situasi pada masa awal Restorasi Meiji (1866-1869). Begitu juga film yang diperankan oleh Tom Cruise, “The Last Samurai.

Singkat cerita, seiring geliat restorasi yang berlangsung dari 1868 sampai 1912, Jepang berhasil menemukan titik keseimbangan. Rekonsiliasi dan atau kompromi terjadi, hanya dengan komitmen sederhana senagaimana slogan mereka yang terkenal: “Etika Timur, Ilmu Pengetahuan Barat.”

Komitmen itu yang membuat Jepang ada seperti sekarang ini. Modern tetapi tetap teguh di atas tradisi, etika dan kearifan leluhur.

Bagaimana dengan kita?

=======

Sofyan Daud: politisi, penulis, pelaku budaya

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed