Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Pelantikan itu tampak biasa saja, seperti upacara yang sudah hafal koreografinya. Namun di antara nama-nama yang dibacakan, ada satu yang membuat publik berhenti sejenak: Mohammad Jumhur Hidayat.
Namanya moncer di hampir semua demo perburuhan. Seorang aktivis lama, dengan teriakan khasnya, yang hidupnya lebih sering di jalanan perjuangan ketimbang di lorong kekuasaan, kini resmi menjadi Menteri Lingkungan Hidup.
Yang melantik adalah Presiden Prabowo Subianto. Dan di barisan tamu, tampak sosok lain yang tak kalah kontroversial: Rocky Gerung —kawan lama dalam gelanggang kritik dan perdebatan.
Pemandangan itu seperti reuni para pengganggu status quo, tapi kali ini berlangsung di dalam Istana, bukan di luar pagar. Itu memunculkan nada sinisme, sekaligus kekhawatiran.
Di sinilah sebuah kalimat sederhana dari kawan-kawan Jumhur tiba-tiba terasa lebih tajam dari analisis akademik mana pun: “Jangan sampai mereka jadi beruang sirkus.”
Kalimat itu pendek, tapi menggigit. Karena ia tidak sedang bicara soal hewan, melainkan soal nasib idealisme. Ia membersitkan sebuah harapan tulis para sahabat.
Anda tahu, beruang sirkus itu kuat, tapi dijinakkan. Ia pernah liar, tapi kini berjalan sesuai irama musik. Ia masih tampak gagah, tapi arah langkahnya sudah ditentukan oleh pelatih.









