Cerita Pelarian dan Hidup yang Sia-sia

oleh -483 views

“Gie, kau paham arti kebersamaan?”
“Thom, keluargaku bukan kisah-kasih keluarga cemara. Mereka tidak harmonis, tapi juga tidak pelik. Kebersamaan bagiku hanya olok-olok buat mereka yang pernah merasakannya sendiri.”
“Keluargaku pun begitu,”

“Kau punya saudara?” lanjut Thom,
“Saudara tiri,”
“Aku dibesarkan sendirian Gie, pengasuhku Maria pernah menceritakan bagaimana aku bisa sampai ke penampungan ketika masih 2 tahun. Ya, usia cukup besar bagi seorang anak untuk dibuang. Ya kan?” Gie hanya merespon dengan mengangguk-angguk. Asap rokok yang mengebul dari mulutnya menggambarkan semua perasaanya yang terpendam. Thomas mengetahui itu dengan kemampuan inderanya.

“Gie,” Gie menoleh. “Ceritakan bagianmu.”
“Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada jalan-jalan sendirian di tengah kota malam minggu, Thom.” tukasnya. Kali ini Thomas yang merespon dengan raut wajah yang menunjukkan tanda tanya, seperti mempersilakan Gie meneruskan. Sementara Thomas akan mendengarkan.

Baca Juga  Eks Menhan AS: Netanyahu Salah Besar Bilang Iran Runtuh pada Serangan Pertama

“Ibuku bunuh diri, ayahku menikah lagi. Kakak dan adik tiriku tuli. Aku sempat dipekerjakan sebagai tukang palak karena kami punya usaha properti kos-kosan di dekat universitas besar. Kau tahu? Aku ini sampah,”

Suasana kembali tenang. Tidak ada obrolan yang dilanjutkan. Entah ide siapa dan bagaimana topik pembahasan mereka menjadi sangat rumit seperti obrolan-obrolan penting kuasa elit. Thomas dengan kisah sedihnya, Gie dan segala kehancurannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.