“Gie, kau ingin hidup seperti apa?”
“Ya, hidup begini saja.” katanya. “Kau?”
Thomas tidak menjawab tapi tertawa. “Tak ingin hidup seperti orang lain?”
“Entahlah, aku merasa buruk ketika bersama orang lain, beberapa kali aku hampir tidak mengenali siapa diriku saat bersama orang lain. Aku bukan yang sebenarnya aku mau, Thom.”
“Baguslah!” Thomas menimpali.
“Bagus apanya? Duniaku sempat berhenti, dan hari ini baru akan kumulai. Aku tidak menginginkan siapapun atau apapun. Hidup saja seperti air. Mengalir sampai jauh, dan hilang. Ha Ha Ha.” Gie menarik satu garis bibirnya. Menampilkan senyum sinis seperti sedang megasihani masa lalunya yang paling ia benci.
“Baguslah, kau bisa memaknai hidupmu dengan baik. Kau tumbuh, Gie.”
—
“Thom, hidupmu bagaimana?”
“Aku sendirian Gie,” Thomas menceritakannya dengan singkat.
Mereka duduk di pinggir jalan setelah Gie memesan kopi kaki lima dari penjual yang ada di gedung terbengkalai paling terkenal di Embong Malang. Kemudian sama-sama menikmati jalanan yang mulai sepi dan pejalan kaki yang kembali setelah menyelesaikan harinya dari kenyataan.
“Pengasuhku, Maria. Dia adalah orang yang paling marah ketika tahu aku belum pulang seharian. Aku juga ingat cerita-cerita tentang bagaimana aku bisa sampai ke penampungan di usia 4 tahun. Cukup besar bagi seorang anak yang dibuang kan?”










