Gie tidak menjawab. Ia memilih mendengarkan dan ingin menikmati kopinya sebelum dingin. Sesekali ia melirik Thomas karena perasaan bersalah yang timbul begitu saja setalah ceritanya. Gie segera menyadari ketika bukan lagi tentang dirinya sendiri lagi.
Thomas meneruskan ceritanya lagi. Tentang orangtuanya, dan bagaimana ia tumbuh menjadi orang yang paling bahagia versinya. Anak sekolah yang rajin dan pintar. Taat dan bersedia kepada Tuhan. Serta kebaikan lain di mata Gie tentang Thomas.
Kini Thomas menatap Gie khawatir. Seperti cerita-cerita perpisahan kisah romansa anak remaja yang akan pergi jauh. Atau seperti tatapan bangga orangtua yang melepas anaknya mengejar mimpi di tempat yang antah berantah. Aneh. Gie membalasnya tersenyum.
“Kau tahu, aku dulu mati disana,” Thomas menunjuk salah satu gedung di seberang jalan dengan jam besar yang memperlihatkan identitas toko jam di bawahnya. Tanpa sadar Gie menggeser sedikit tubuhnya agak jauh dari Thomas. Perasaan aneh itu muncul ketika akhirnya Gie menyadari apa yang baru saja ia ketahui.
Pertemuan mereka belum tentu tanpa alasan. Namun entah mengapa ilahi mempersatukan dua dimensi ketika dunianya setengah hancur seperti ini. Gie bukan orang yang selalu ingin bersama orang lain. Baginya Thomas adalah sosok yang berhasil membuatnya nyaman, atau setidaknya mengobrol tentang masalah-masalah pelik yang dialaminya.










