Dua Nyong Ambon ini Ciptakan Produk Unik Manfaatkan Limbah Tekstil di Semarang

oleh -86 views
Link Banner

Porostimur.com | Semarang: Rumah itu terletak di sebuah gang sempit yang berlokasi di Karanggawang, Tembalang, RT 4/ RW 14. Penguhuni rumah tersebut, yakni Jemi Nikolaus dan Rinto banyak melakukan hal mulia dari limbah yang mereka sebut “Saparo”.

Jemi dan Rinto bukanlah orang Semarang. Mereka perantauan dari Ambon yang sudah melakukan banyak perjalanan sampai akhirnya tinggal dan menetap di Karanggawang itu.

Limbah bagi dua saudara ini barangkali seperti teman sejak kecil. Pasalnya hidup di Ambon tidak seperti di Jawa. Jemi mengatakan, di sana serba kekurangan dan memanfaatkan barang-barang bekas untuk bermain.

“Tapi dari keterbatasan itu kami jadi kreatif,” ujar Jemi.

Ketertarikan Jemi pada limbah dia bawa sampai kali pertama saat menempuh kuliah Jurusan Tata Busana di sebuah univeristas di Malang. Saat mendesain busana idenya tidak jauh-jauh dari limbah.

Baca Juga  Polda Melarang Pawai Takbir Keliling Saat Malam Idul Fitri 1442 H di Maluku Utara

Tahun-tahun berjalan Jemi terus membawa limbah sebagai ide andalannya. Kemudian dia ke Semarang dan mengenal banyak komunitas. Jemi pun mulai aktif berkegiatan seraya membuat menciptakan produk fasyen Saparo yang terbuat dari limbah tekstil.

Saparo sendiri merupakan rangkaian dari banyak hal. Mulai dari singkatan dari keluarganya yakni Shara (ayah), Paulus (Ibu), dan Rosalina (bibi), serta juga berasal dari arti secara general yang berarti separuh atau dalam bahasa jawa separo.

“Limbah kan tidak utuh. Tapi separo,” jelasnya.

Nah, rumah Saparo merupakan tempat produksinya yang biasa disebut Studio Desain Limbah. Namun Jemi dan Rinto tidak hanya menjadikan rumah tersebut jadi tempat produksi dirinya belaka.

Baca Juga  Harga Daging Sapi di Pasar Mardika Masih Mengalami Kenaikan, Harga Daging Ayam Turun

“Saya mau bikin jadi workspace. Jadi nanti pegiat seni di Semarang bisa kumpul di sini,” ujarnya pria 29 tahun itu.

Meskipun itu masih menjadi cita-cita dan belum tersampai namun dalam sedikit waktu ini tujuan mulia itu sudah tampak. Jemi mengajarkan ibu-ibu sekitar untuk mengolah ulang limbah tekstil menjadi produk yang lebih berguna.

“Saya sudah buat beberapa alat tenun. Di waktu-waktu tertentu saya bikin workshop,” tuturnya.

Jemi bersama Rinto tidak hanya membuat olahan limbah menjadi pakaian saja. Tapi juga banyak barang lainnya, seperti asbak dari onderdil bekas, hiasan akrilik, dan berbagai interior seperti meja.

(red/ayosemarang)