Porostimur.com | Semarang: Rumah itu terletak di sebuah gang sempit yang berlokasi di Karanggawang, Tembalang, RT 4/ RW 14. Penguhuni rumah tersebut, yakni Jemi Nikolaus dan Rinto banyak melakukan hal mulia dari limbah yang mereka sebut “Saparo”.
Jemi dan Rinto bukanlah orang Semarang. Mereka perantauan dari Ambon yang sudah melakukan banyak perjalanan sampai akhirnya tinggal dan menetap di Karanggawang itu.
Limbah bagi dua saudara ini barangkali seperti teman sejak kecil. Pasalnya hidup di Ambon tidak seperti di Jawa. Jemi mengatakan, di sana serba kekurangan dan memanfaatkan barang-barang bekas untuk bermain.
“Tapi dari keterbatasan itu kami jadi kreatif,” ujar Jemi.
Ketertarikan Jemi pada limbah dia bawa sampai kali pertama saat menempuh kuliah Jurusan Tata Busana di sebuah univeristas di Malang. Saat mendesain busana idenya tidak jauh-jauh dari limbah.
Tahun-tahun berjalan Jemi terus membawa limbah sebagai ide andalannya. Kemudian dia ke Semarang dan mengenal banyak komunitas. Jemi pun mulai aktif berkegiatan seraya membuat menciptakan produk fasyen Saparo yang terbuat dari limbah tekstil.
Saparo sendiri merupakan rangkaian dari banyak hal. Mulai dari singkatan dari keluarganya yakni Shara (ayah), Paulus (Ibu), dan Rosalina (bibi), serta juga berasal dari arti secara general yang berarti separuh atau dalam bahasa jawa separo.




