Dua Puisi Rudi Fofid

oleh -331 views

“di bawah rumpun bambu ini aku teringat
pada satu ciuman paling terkenal berabad lalu
di bawah rimbun pohon zaitun,” kata sang petani

hukunalo, 24 September 2021

=========

Seekor Kucing Melamun

Di pantai salju tepung sagu
Cantik duduk di pangkuan tampan
Sungguh kasmaran, mesra, romantis
Dan sial, aku cemburu
Tuhan, tidak adil

Mengapa aku jadi kucing tak bertuan di pantai ini
Mengapa aku bukan perjaka tampan pemilik perawan cantik itu
O, aku telan ludah dan air kelapa muda saja
Sambil curi-cari pandang mempertebal rasa iri
Sambil teringat masa remajaku yang madu

Api cemburu bergemuruh di jantungku
Andai aku si tampan itu
Andai kumiliki perawan itu
Sial, aku hanya kucing tak bertuan di pantai ini
Saban hari, aku dilempari batu tanpa salah

Baca Juga  Unpatti Dorong Mahasiswa Perluas Karier di Luar ASN, Fokus ke Dunia Industri

Kulihat si cantik seka keringat
Tisu bekas dilempar ke pasir
Diterbangkan angin
Dijilat ombak
Nafsu

Kulihat si tampan sedot coca cola
Kaleng bekas diserahkan kepada pasir
Langsung diterjang angin
Bergulung seperti roda gila
Sinting

Ingin kumaki si cantik itu tetapi jangan
Ingin kumaki si tampan itu tetapi jangan
Ingin kumaki pula tuhan tetapi jangan
Aku justru ingat ibuku guru
Aku justru ingat bapakku guru

Guru-guruku genggam tanganku
Melewati gurun kebodohan akut
Agar tengkorakku tak diracuni plastik
Mereka tuntun aku cinta pasir itu
Mereka tuntut aku sayang ombak itu

No More Posts Available.

No more pages to load.