Dua Puisi Rudi Fofid

oleh -89 views
Link Banner

Ciuman Paling Terkenal

petani itu tanam sebatang bambu di pelataran jiwanya
ia doakan bambu itu dengan seluruh nafas dan lafaz
maka jadilah rimbun bambu yang tiada terhitung

orang kampung dan kota datang minta bambu
petani itu memberi dengan rasa bahagia
“silakan ambil secara percuma,” ujarnya selalu

jika ada pesta, bambu itu ikhlas jadi tenda teduh
dan biting-biting yang tajam tetapi tak melukai
tak lupa rebung bambu untuk acar

jika nelayan bikin bubu, mereka minta bambu di situ
nelayan berbudi selalu berbagi ikan kepada sang petani
“ini ada sedikit rezeki,” kata sang nelayan, saban kali

seorang sahabat petani datang bawa senyum kecap manis
sahabat itu minta beberapa batang bambu
katanya untuk kehidupan

petani itu berdiri di dalam malam
di bawah redup sinar bulan sabit
ia rasa bulan sabit itu mau sabit lehernya

petani itu mendengar desing angin peluru
rasa mencekam menuntunnya masuk gubuk bambu
ternyata dia sudah terlambat

di depan pelita sang petani amati sekujur badan
ia hitung anak panah yang tertancap di tubuh
di atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang

Baca Juga  Hanya 22 peserta ikuti seleksi MTQ Korpri IV tingkat nasional

petani itu tersenyum kepada sahabatnya di pintu
pemilik senyum kecam manis itu bertanya penasaran
“di dalam lukamu, mengapa tersenyum?”

bunga-bunga mekar dalam senyum sang petani
ia pun pergi berdiri di bawah rumpun bambu
angin malam menjilat darah dan mata panah

“di bawah rumpun bambu ini aku teringat
pada satu ciuman paling terkenal berabad lalu
di bawah rimbun pohon zaitun,” kata sang petani

hukunalo, 24 September 2021

=========

Seekor Kucing Melamun

Di pantai salju tepung sagu
Cantik duduk di pangkuan tampan
Sungguh kasmaran, mesra, romantis
Dan sial, aku cemburu
Tuhan, tidak adil

Mengapa aku jadi kucing tak bertuan di pantai ini
Mengapa aku bukan perjaka tampan pemilik perawan cantik itu
O, aku telan ludah dan air kelapa muda saja
Sambil curi-cari pandang mempertebal rasa iri
Sambil teringat masa remajaku yang madu

Api cemburu bergemuruh di jantungku
Andai aku si tampan itu
Andai kumiliki perawan itu
Sial, aku hanya kucing tak bertuan di pantai ini
Saban hari, aku dilempari batu tanpa salah

Baca Juga  Tiga Puisi Rudi Fofid

Kulihat si cantik seka keringat
Tisu bekas dilempar ke pasir
Diterbangkan angin
Dijilat ombak
Nafsu

Kulihat si tampan sedot coca cola
Kaleng bekas diserahkan kepada pasir
Langsung diterjang angin
Bergulung seperti roda gila
Sinting

Ingin kumaki si cantik itu tetapi jangan
Ingin kumaki si tampan itu tetapi jangan
Ingin kumaki pula tuhan tetapi jangan
Aku justru ingat ibuku guru
Aku justru ingat bapakku guru

Guru-guruku genggam tanganku
Melewati gurun kebodohan akut
Agar tengkorakku tak diracuni plastik
Mereka tuntun aku cinta pasir itu
Mereka tuntut aku sayang ombak itu

Aku kenang semua guruku
Ibu guruku lebih cantik dari perawan itu
Bapak guruku lebih tampan dari perjaka itu
Walau guru-guruku hanyalah daun pisang
Daun kelapa, ruas bambu, daun mangkok

Maka aku sujud sembah di atas pasir
Kupinta Tuhan berkati guru-guruku
Jangan cuma sampai tujuh turunan
Tetapi selama Bumi masih bernafas
Dan langit masih jadi payung biru

Baca Juga  Bang Bahar Resmi Dianugerahi Warga Kehormatan Kota Ambon

Kini baru aku sadari karya sang seniman agung
Aku lebih cantik dari perawan plastik itu
Aku lebih tampan dari perjaka kaleng-kaleng itu
Aku hanyalah kucing tak bertuan di pantai ini
Tetapi bangsa kucing selalu sembunyikan tinja

Maaf, Tuhan, aku salah
Kukira kau tidak adil
Ampun, Tuhan, aku salah
Kukira aku tidak cantik
Kukira aku tidak tampan

Sio, Tuhan, kalau ada reinkarnasi
Jangan aku jadi perawan plastik
Jangan jadikan aku perjaka kaleng-kaleng
Izinkan aku jadi pisang yang punya jantung
Tetapi daunku rela koyak demi bungkus-bungkus

Sio, Tuhan, aku hanyalah kucing tak bertuan di pantai ini
Tetapi aku anak kandung demonstrasi
Andai kau jadikan aku perawan plastik itu
Andai kau jadikan aku perjaka kaleng-kaleng itu
Aku akan protes kau dalam satu unjuk rasa di surga

Hukunalo, 23 September 2021

No More Posts Available.

No more pages to load.