Dandelion Darimu

oleh -31 views
Link Banner

Cerpen Karya: Aen

Seperti dandelion yang telah putih menua kau pergi meninggalkanku seorang diri.
Seperti dandelion yang ringan terbang bersama angin kau melangkah sesuka hati tanpa bertanya arah terlebih dahulu.
Seperti dandelion kau jatuh pada hati dan tumbuh di tempat baru tanpa mengingat lagi dimana mulanya semuanya bisa terjadi.
Seperti dandelion, kau kembali hidup untuk melukai tanah yang kau tumpangi.

Ku berharap seperti dandelion juga indahmu sehingga aku tak bisa membenci.
Nyatanya, aku memang tidak bisa membenci. Senyumanmu, tawa indahmu telah menahan hati. Menjadikanku tak lagi sanggup melakoni diri dan terlanjur jatuh pada kebohongan yang bibir indah itu ucapkan tanpa setitik pun kegagalan.

Telah lama ku menanti, dimana hariku bisa membenci. Dan tibalah sekarang ini, kau putuskan untuk mengakhiri kesenangan yang kau ciptakan. Seperti hujan kau jatuhkan air mata tipuan yang menjadikanku tak sanggup lagi menahan kerinduan.

Kau peluk erat tubuhku dengan bergumam beribu maaf yang sulit untuk ku diberi. Ku terlanjur membenci, membenci kesenanganmu yang menyakiti hati. Jika aku bertanya apakah kau mengerti apa itu hati, mungkin jawaban pasti telah lama kau siapkan.

Baca Juga  Pasien Positif Covid-19 di Malut Melonjak jadi 26 Kasus

Siapa tak mengerti hati?
Semuanya dilakukan dengan hati, kehati-hatian, dan penuh perhatian. Demikianlah kujaga hatiku agar tetap hanya menjadi milikmu dan yang kini kudapat hanya permainan yang menurutmu tak berarti sama sekali.

Kini hujan pun turut menangisi kebodohanku, dia menerpa tubuh rapuh yang berulang kali kau sakiti tanpa henti. Dia mengingatkan semua kenangan yang tersimpan didalamnya tiap tetesan air.

Kulepaskan kini semuanya, kenangan yang terus saja menghantui diri tanpa niat mengasihani. Kurelakan kini kau pergi, menikmati dunia barumu yang akan kembali kau hancurkan seperti diriku. Kuikhlaskan hati, yang terbang menuruti dirimu. Karena ku tau, setiap kali ku bertanya padanya, dia hanya menjawab semua tentang dirimu.

Baca Juga  Bangkit Dibalik Ratusan Kegagalan

“Apakah cinta itu?”
Kini kau bertanya padaku yang telah remuk hancur bersama satu kata yang kubenci, pelipur lara tiada menghampiri diri yang sibuk meratapi.

“Jika kujawab itu adalah kau, bisakah kau menjaga cintaku?” Kataku menatapi manik gelap yang kini bergetar. Memacu setiap debaran agar terus ada dalam dada. Kau tidak bisa menjawab bukan? Aku hanya bisa menertawai diri dalam hati. Betapa bodohnya aku bisa mencintai semua diri yang seperti ini. Kulangkahkan kaki menjauhi sang pematah hati menikmati setiap memori yang dibawakan hujan di bulan Juni.

“Aku bukan cinta itu, kenangan ini memang manis namun duniaku kini menyambut datang.”

Segenggam harapan pun tak pernah kau tinggalkan, sekarang kau pergi dengan membekaskan air mata di pipi ini.

Baca Juga  Monev MUI Malut, Dari Kantor Hingga Aliran Sesat

Aku pun kembali menanyai diri, apakah pantas cinta itu kumiliki? “Kau memang dandelion yang tumbuh indah ditempat asing yang sama sekali tak kau kenali lalu kemudian pergi meninggalkan luka bagi setiap penikmat keindahan yang kau tumpangi.”

“Sudah seharusnya seperti ini sebelum semua kembali tersakiti, mengertilah diriku karena aku hanya sepucuk dandelion penghibur hati.”

Sabtu, 4 September 2021.
Rahel.

(***)

No More Posts Available.

No more pages to load.