Sementara itu, Ibrahim Khalili dari Al Jazeera mengunjungi Rumah Sakit al-Rantisi di Kota Gaza, tempat Judi al-Arour, bayi berusia enam bulan, berjuang untuk bertahan hidup.
Pada usia enam bulan, berat badannya seharusnya setidaknya 6 kg. Namun dia lahir dalam kondisi kelaparan di Gaza, dari seorang ibu yang mengalami malnutrisi parah selama kehamilan, hidupnya berada di ujung tanduk, dengan berat hanya 2 kg.
Dr. Mayada Jundiyeh, kepala unit neonatal di Rumah Sakit al-Rantisi, mengatakan kepada Khalili bahwa, “Tahap kerusakan selanjutnya, setelah penurunan berat badan dan ketidakseimbangan elektrolit, dapat menyebabkan kerusakan otak permanen.”
“Bahkan jika suplemen nutrisi dan makanan yang tepat kemudian diperkenalkan kepada anak-anak, kondisi mereka mungkin sudah tidak dapat diperbaiki, artinya otak dan fungsi kognitif mereka sudah terpengaruh,” ujar Jundiyeh.
Nenek Al-Arour, Um Ashraf al-Arour, mengatakan keluarganya telah melakukan segalanya untuk merawatnya, tetapi karena Israel telah memblokir masuknya susu formula dan makanan bayi, cucunya menjadi “sangat rapuh” dan “hanya tinggal tulang belulang”.
sumber: sindonews









