Gugurnya Tiga Prajurit TNI dan Tangis Kita

oleh -30 Dilihat

Namun, ketika maut menjemput mereka melalui tangan yang sama dengan yang memporak-porandakan Palestina, Lebanon dan Iran, kini “tanah air” kita seolah sedang mempraktikkan “kebebalan”. Sebuah keheningan yang lebih dingin daripada malam di gurun. Apakah mereka terhalang “tegas” karena ada “panggung politik” BoP? Sebab pelakunya ada di dalamnya?

Ketika pemimpin kita dengan semangat tinggi untuk mengakui kedaulatan bangsa Israel, kitapun kini berhak bertanya, apakah tiga nyawa dan darah prajurit TNI kurang berarti untuk “meja” diplomasi? Bagaimana mungkin kita bisa menatap mata Israel sebagai “mitra strategis” dalam perdamaian, saat mata yang sama baru saja memadamkan cahaya tiga putra ibu pertiwi?

Sungguh, ini adalah tragedi yang memilukan. Duka bagi kita bersama sebagai bangsa yang menjunjung tinggi martabat kemanusian. Seorang perwira dan dua bintara muda, gugur dalam tugas mulia. Namun, respon tegas yang lambat ini—atau justru terkesan ada kecenderungan merawat kedaulatan pihak pelaku—menjadikan pengorbanan mereka seolah sekadar “risiko kerja” yang bisa dimaklumi.

Baca Juga  Kapolda Malut Warning Personel Ditpolairud: Patroli Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Jika komitmen kita kepada Palestina kini menjadi kabur oleh ambisi diplomasi pragmatis, maka gugurnya tiga prajurit ini adalah peringatan yang serius: Mungkin diplomatik dan kebijakan geopolitik kita sedang kehilangan arah. Sebab nyawa prajurit adalah kehormatan bagi sebuah bangsa. Mereka tidak bertaruh dengan kartu, mereka bertaruh dengan nyawa.

No More Posts Available.

No more pages to load.