Haji Mabrur atawa Haji Majnun

oleh -8 Dilihat

Namun tidak semua yang berdiri di Arafah benar-benar melihat dirinya.

Sebagian hanya hadir secara fisik, tetapi batinnya tetap bersembunyi. Ia menangis, tetapi air matanya tidak menyentuh akar. Ia berdoa, tetapi doanya masih berputar di permukaan. Ia thawaf, tetapi pusat orbitnya tetap dirinya sendiri.

Dari sinilah, perlahan, lahir apa yang tak pernah kita akui: haji majnun.

Majnun bukan sekadar “gila”—ia adalah kehilangan pusat. Ia adalah ketika manusia merasa telah sampai, padahal ia belum pernah benar-benar berangkat. Ia membawa pulang simbol, tetapi kehilangan makna. Ia mengoleksi ritual, tetapi gagal memanen kesadaran.

Ia seperti orang yang meminum air laut—semakin diminum, semakin haus.

Gelar “haji” menjadi penanda sosial, bukan penanda spiritual. Ia berdiri lebih tegak, tetapi bukan karena rendah hati—melainkan karena merasa lebih tinggi. Ia bicara tentang kesucian, tetapi tangannya masih kotor oleh kepentingan. Ia pernah menyentuh Ka’bah, tetapi hatinya tak pernah tersentuh.

Baca Juga  Perang AS-Iran Telan US$38 Miliar, CBO: Biaya Bisa Bertambah US$3 Miliar Tiap Bulan

Dan ironinya, ia merasa telah selesai.

Padahal haji sejatinya adalah awal, bukan akhir.

Ia adalah titik balik, bukan titik puncak. Ia adalah retakan pertama pada dinding ego yang selama ini kita bangun begitu kokoh. Dalam ihram, manusia dilucuti dari segala atribut dunia—seakan Tuhan ingin berkata: “Datanglah sebagai dirimu yang paling sederhana, agar engkau bisa mengenali siapa dirimu yang sebenarnya.”

No More Posts Available.

No more pages to load.