Ketika Bendahara Terlalu Banyak Bicara

oleh -25 Dilihat

Oleh:Ahmadie Thaha, Kolumnis

Tak sedikit penguasa yang kehilangan jabatan karena gagal mencapai target. Banyak juga lainnya yang tersingkir karena terlibat masalah.

Purbaya Yudhi Sadewa tersingkir dari kursi Menteri Keuangan pada 14 September 2026, entah kenapa. Siang itu, ironinya, ia sendiri sedang menjelaskan surat utang pemerintah di Gedung DPR/MPR Senayan.

Di tengah rapat bersama DPD RI itu, tiba-tiba seorang pimpinan menyelanya: ada telepon untuk sang menteri. Rapat pun diskors beberapa menit. Tak lama kemudian, di Istana, Presiden melantik Suahasil Nazara sebagai penggantinya.

Tampak ada ironi kecil dalam adegan itu. Seorang bendahara negara sedang berbicara tentang utang, tapi yang datang justru kabar yang mungkin mengubah “modal politik”-nya menjadi utang pertanggungjawaban.

Baca Juga  Tangis Gubernur Lewerissa Pecah Saat Lihat Anak-anak Patahuwe Terdampak Konflik

Kita belum tahu persis apa isi telepon ke Purbaya tersebut. Namun, suasana itu terasa seperti metafora yang terlalu rapi untuk diabaikan. Di pemerintahan, seseorang bisa masih memegang mikrofon ketika kekuasaan sudah mulai memindahkan kursinya.

Jangankan kita, Purbaya pun mungkin belum tahu apakah ia dilepas karena kinerja, perbedaan arah kebijakan, persoalan koordinasi, atau sebab lain.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk diperiksa. Antara lain, cara Purbaya berbicara tentang masalah pemerintah, terutama program unggulan Presiden.

No More Posts Available.

No more pages to load.