Haji Mabrur atawa Haji Majnun

oleh -8 Dilihat

Sebab Makkah tidak pernah meminta kita untuk tinggal. Ia justru menguji kita saat kita kembali—di pasar, di kantor, di ruang keluarga, di tempat di mana godaan datang tanpa ihram, tanpa talbiyah, tanpa suasana sakral.

Di situlah haji diuji: apakah ia menjelma menjadi akhlak, atau hanya tinggal sebagai kenangan.

Apakah ia mengalir dalam keputusan-keputusan kecil—jujur atau curang, adil atau berat sebelah, sabar atau meledak-ledak—atau hanya berhenti sebagai cerita yang diulang-ulang dengan bangga.

Pada akhirnya, haji bukan tentang berapa jauh kita melangkah ke luar, tetapi seberapa dalam kita masuk ke dalam.

Sebab Ka’bah itu satu, tetapi “berhala-berhala” di dalam diri kita tak terhitung jumlahnya. Dan bisa jadi, kita telah mengelilingi Ka’bah berkali-kali, tetapi belum sekali pun benar-benar menghancurkan berhala itu.

Baca Juga  Buka FGD Reviu RP3KP, Sekda Haltim Tekankan Data Akurat dan Implementasi di Lapangan

Maka pertanyaannya bukan lagi: sudahkah kita berhaji?
Melainkan: sudahkah kita pulang?

Karena ada yang pulang dari Makkah dengan jiwa yang bersih—itulah mabrur.
Dan ada yang pulang hanya dengan tubuh yang lelah—itulah majnun.

Di antara keduanya, hidup kita akan menjadi jawabannya. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.