Porostimur.com, Ternate – Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Letaknya di jalur cincin api Pasifik membuat daerah ini rentan terhadap gempa bumi, tsunami, serta aktivitas sejumlah gunung api aktif seperti Gunung Gamalama, Gunung Ibu, Gamkonora, Dukono, dan Gunung Kie Besi.
Selain itu, intensitas hujan ekstrem dalam beberapa tahun terakhir turut meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang semester I tahun 2025 terjadi 76 kejadian bencana hidrometeorologi di 48 kecamatan di Maluku Utara. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Halmahera Selatan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak.
Bangun Sistem Kesiapsiagaan Bencana

Kondisi tersebut menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana menjadi kebutuhan penting bagi seluruh pemangku kepentingan yang beroperasi di wilayah Maluku Utara.
Kepala BNPB Halmahera Selatan, Suharyanto, menekankan bahwa di balik keindahan alamnya, Maluku Utara memiliki risiko bencana yang tinggi sehingga semua pihak harus selalu siaga.
“Seluruh pemangku kepentingan harus senantiasa siap siaga tanpa menunggu jatuhnya korban baru bertindak,” ujarnya.









