“Kepala sekolah menghubungi orang tua dan menyuruh mereka datang menjemput anak-anak mereka. Tetapi bom kedua juga menghantam area itu. Hanya sebagian kecil dari mereka yang berlindung yang selamat,” ujarnya.
Seorang staf sekolah yang menyaksikan peristiwa tersebut mengaku masih syok dengan tragedi yang terjadi.
“Saya merasa seperti bisu. Saya tidak bisa berbicara,” kata dia. “Anda bisa mendengar suara anak-anak menangis dan menjerit.”
AS Mengaku Menyelidiki Serangan
Beberapa hari setelah insiden itu, pada Rabu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat sedang melakukan penyelidikan atas serangan tersebut.
“Kami sedang menyelidiki insiden itu,” kata Hegseth dalam pernyataannya.
Sementara itu, laporan yang dihimpun oleh media Middle East Eye menggunakan sejumlah sumber, termasuk Federasi Senam Iran dan kantor berita Tasnim News Agency, telah mengidentifikasi setidaknya 61 korban yang tewas dalam serangan tersebut.
Mayoritas Korban Anak-Anak
Dari daftar korban yang berhasil dihimpun, terdapat 25 anak laki-laki dan 26 anak perempuan. Selain itu, delapan perempuan dewasa, satu laki-laki dewasa, serta seorang bayi berusia dua bulan juga termasuk dalam daftar korban meninggal.
Insiden ini menambah panjang daftar korban sipil dalam konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, dan memicu kecaman dari berbagai pihak yang menyoroti perlindungan terhadap warga sipil, khususnya anak-anak, dalam situasi perang.









