Namun, perubahan posisi kadang membawa ironi tersendiri. Orang yang dahulu mendukung seorang tokoh kini justru memberi nasihat tentang jalan yang sebaiknya ditempuh tokoh tersebut.
Saran tersebut disampaikan sebelum Syahganda dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah. Karena itu, kita tidak tepat menilainya sebagai pernyataan resmi seorang pejabat pada saat diucapkan. Meski demikian, setelah ia menduduki jabatan publik, pernyataan itu kembali menarik perhatian dan layak dibaca dalam konteks perjalanan politiknya yang kini berbeda.
Persoalannya bukan apakah Anies mampu menjadi menteri. Pengalaman dan kapasitasnya dapat dinilai secara terbuka. Namun yang lebih mendasar adalah anggapan bahwa masuk kabinet merupakan jalan yang patut dipertimbangkan Anies, seolah-olah itulah kelanjutan paling wajar setelah ia kalah dalam pemilihan presiden.
Bukankah seseorang yang kalah dalam kontestasi demokratis tetap berhak menentukan masa depannya sendiri? Ia bisa memilih beristirahat, mengembangkan gagasan, membangun gerakan, atau mempersiapkan diri untuk kontestasi berikutnya. Tidak semua jalan pengabdian harus berujung pada kursi pemerintahan. Dan tidak setiap kesempatan memperoleh jabatan harus diterima hanya agar seseorang tampak lapang dada.









