Ironi Syahganda, Jalan Politik Anies, dan Tafsir Baru Etika

oleh -12 Dilihat

Di sini, ironi Syahganda bukan terletak pada keputusannya berpindah haluan, melainkan pada kesan bahwa ia ikut menentukan ke mana Anies sebaiknya melangkah setelah dirinya sendiri menemukan tempat baru dalam peta kekuasaan. Ia tentu berhak menyampaikan pendapat. Namun, hak berpendapat tidak serta-merta membuat pendapat itu menjadi ukuran bagi pilihan orang lain.

Politik boleh berganti arah. Tetapi kedewasaan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang menyesuaikan diri dengan kekuasaan, ataupun seberapa mudah ia membujuk orang lain untuk melakukan hal serupa. Terkadang, kedewasaan justru tampak dari kesediaan membiarkan orang lain memilih jalannya sendiri, tanpa merasa perlu menjadi penunjuk arah.

Ada satu bagian dari pernyataan Syahganda yang patut diperhatikan lebih jauh. Ia mengingatkan Anies agar tidak malu-malu menerima tawaran menjadi menteri. Menurutnya, mungkin ada ego dan gengsi yang perlu disingkirkan. Sekilas, kalimat itu terdengar seolah nasihat seorang kawan yang ingin membuka jalan bagi perdamaian. Namun, di dalamnya terselip sebuah asumsi: seolah-olah keengganan Anies bergabung ke kabinet berakar pada persoalan harga diri.

Baca Juga  Sejumlah Pimpinan OPD Tak Hadiri Salat Istisqa, Wali Kota Tual Tegur Pejabat Pemkot

Padahal, kita tidak mengetahui apakah Anies pernah menyatakan keberatan karena gengsi. Tidak pula ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa ia masih menyimpan ganjalan terhadap Prabowo. Persoalan yang belum tentu ada itu telanjur ditempatkan sebagai sesuatu yang perlu dibereskan. Anies seakan-akan harus membuktikan bahwa dirinya cukup dewasa dengan bersedia menerima tawaran yang bahkan belum tentu pernah datang.

No More Posts Available.

No more pages to load.