“Saya harap ini lelucon, berita palsu, karena pria ini tidak dapat digantikan,” imbuh dia. “Tidak mungkin. Semoga Tuhan membalas kematiannya.”
Beberapa pendukung Nasrallah mulai mempertanyakan keputusan Hizbullah untu memulai bentrok dengan Israel pada 8 Oktober, yang dilakukan kelompok itu untuk mendukung Hamas di Gaza.
“Mengapa dia memasuki perang ini?” kata Rabia. “Apakah kita meringankan beban Gaza? Tidak. Dan sekarang, Sayed sudah tiada, siapa yang akan menggantikannya sekarang?”
“Tidak seorang pun dapat menggantikannya, tidak seorang pun dapat menggantikannya,” ujarnya.
Rabia juga mengkritik Poros Perlawanan yang dipimpin Iran, dengan mengatakan bahwa sementara Houthi Yaman mendukung Hizbullah, Suriah dan Iran tidak.
“Ketika Hizbullah terlibat, tidak ada yang mendukungnya,” katanya, seperti dikutip Middle East Eye, Minggu (29/9/2024).
“Ketika kami mengatakan kami memasuki perang dengan Israel, [Poros Perlawanan] mengatakan mereka akan mendukung kami, tidak ada yang mendukung kami. Di mana mereka?”
Kematian Nasrallah terjadi setelah Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan bahwa sedikitnya 1.640 orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon sejak 8 Oktober. Angka tersebut mencakup 1.030 orang yang tewas sejak 16 September.











