Apa kabarmu yang merindu?
Hujan turun pelan di genteng rumah,
setiap tetes seperti namamu
yang jatuh dan pecah di lantai.
Aku ambil sapu,
kumpulkan pecahan-pecahan itu,
tapi yang tertinggal hanyalah basah.
Rindu memang begitu,
tak pernah bisa disapu bersih
============
Hujan
hujan datang tanpa kata
membasahi atap rumahku
yang sudah lama tak berdinding
airnya turun pelan
seperti bisik yang lupa
mengapa harus diucapkan
daun-daun menadah
dengan tangan terbuka
lalu menangis diam-diam
aku berdiri di pintu
mendengar
hujan menyapu debu
di dalam dada
tak ada yang hilang
tak ada yang bertambah
hanya basah
yang merata
dan di ujung jalan
lampu warung masih menyala
kuning pucat
menunggu orang pulang
===========
Secangkir Kopi Pahit
Kopi hitam itu tertawa, menyaksikan jemarinya terbakar pelan.
Ia mengaduk cangkir bukan dengan sendok, melainkan dengan kenangan.
Bahagia hanyalah uap yang menguap sia-sia.
Dan di pusaran air yang bergejolak oleh jari telunjuk itu,
ia masih berharap menemukan wajahmu,
meski yang tersisa hanyalah secangkir kosong yang semakin dingin
========









