Jangan Biarkan Hilirisasi Enau Berhenti pada Sopi

oleh -112 Dilihat

Oleh: Samson R. Atapary, Politisi

Pohon enau atau aren tumbuh melimpah di Maluku. Ia bukan sekadar tanaman yang tumbuh liar di antara perbukitan dan permukiman desa, tetapi menyimpan potensi ekonomi yang selama ini belum dikelola secara optimal. Dari pohon ini, masyarakat memperoleh nira, yang secara turun-temurun diolah menjadi sopi—minuman tradisional khas Maluku.

Persoalannya, mengapa ketika berbicara tentang hilirisasi pohon enau, pikiran kita seolah-olah berhenti pada satu produk: sopi?

Pertanyaan ini penting diajukan karena masa depan petani enau tidak boleh dipertaruhkan hanya pada satu mata rantai usaha yang memiliki persoalan hukum, kesehatan, pasar, dan tata niaga yang kompleks.

Ketika Sopi Berhadapan dengan Hukum

Selama ini, sebagian besar petani enau di Maluku memanfaatkan niranya untuk memproduksi sopi secara tradisional. Produksi dilakukan secara turun-temurun dengan teknologi sederhana dan umumnya belum memiliki standardisasi produksi, izin edar maupun mekanisme cukai sebagaimana produk minuman beralkohol yang masuk dalam sistem industri formal.

Baca Juga  Pererat Silaturahmi Warga, Turnamen Domino Digelar di Posko BABARI Desa Kasuba

Di tingkat masyarakat, sopi memiliki sejarah sosial dan budaya yang panjang. Namun, dalam praktik peredarannya, persoalan menjadi lebih rumit. Sopi diperdagangkan secara luas dengan harga relatif murah dan konsumennya tidak selalu terbatas pada kelompok usia dewasa.

No More Posts Available.

No more pages to load.