Jokowi, Dedi Mulyadi, dan Sisi Gelap Kepemimpinan Populis

oleh -20 Dilihat

Populisme Dedi Mulyadi

Kiprah politik Dedi Mulyadi sejatinya tidak jauh berbeda dengan Jokowi. Mereka sama-sama pernah memimpin wilayah kota/kabupaten.

Jokowi pernah menjadi Wali Kota Surakarta (2005-2012), sementara Dedi Mulyadi pernah menjadi Bupati Purwakarta (2008-2018).

Pun pada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi keduanya juga sama-sama pernah menjabat gubernur. Jokowi mantan Gubernur DKI Jakarta (2012-2014), sementara Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat saat ini.

Perbedaan paling mencolok antara keduanya terkait pengalaman aktivisme. Jokowi hanya punya jejak aktivisme kala menjadi anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).

Sementara Dedi Mulyadi sejak mahasiswa adalah seorang aktivis yang juga pendiri organisasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwakarta.

Baca Juga  Patroli Ditpolairud Polda Malut di Perairan Tataleka, Dugaan Bom Ikan Diakui Nelayan

Selain itu, jejak Dedi Mulyadi yang pernah menjadi anggota DPRD dan DPR RI menjadi pembeda lain. Jokowi tidak pernah menjadi anggota legislatif.

Namun, pada konteks mem-branding diri, persona politik Jokowi dan Dedi Mulyadi sebagai pemimpin populis nyaris sama dengan memanfaatkan media digital untuk mengkonstuksi citranya.

Secara sederhana, menurut Mudde (2004), populisme dapat dipahami sebagai gerakan yang memanfaatkan sentimen kerakyatan untuk melawan status quo elite.

No More Posts Available.

No more pages to load.