Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

oleh -34 Dilihat

Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Ada satu hukum tua dalam dunia kepemimpinan: kekuasaan dapat dipaksakan, tetapi kewibawaan hanya dapat dipelihara.

Dan kewibawaan memiliki rahasia yang sering dilupakan oleh mereka yang memegang kuasa: ia membutuhkan “jarak”.

Bukan jarak yang berarti menjauh dari rakyat, bukan pula jarak yang lahir dari kesombongan. Tetapi jarak simbolik—ruang yang membuat seseorang tetap memiliki bobot, membuat kehadirannya tidak menjadi sesuatu yang biasa, dan membuat setiap kata yang keluar memiliki nilai.

Sebab sesuatu yang selalu hadir sering kali kehilangan keistimewaannya. Suara yang terdengar setiap saat perlahan berubah menjadi kebisingan. Wajah yang muncul di setiap ruang lama-lama kehilangan daya pesonanya.

Baca Juga  Sarmuji: Kinerja Nyata Golkar Harus Diimbangi Penguatan Citra di Ruang Digital

Dalam dunia kepemimpinan, terlalu dekat pun bisa menjadi bahaya. Ketika seorang pemimpin kehilangan ruang antara dirinya dan massa, ia berisiko kehilangan aura yang membuatnya dihormati.

Rahasia inilah yang menarik ketika membaca karya Emrys L. Peters, The Bedouin of Cyrenaica. Dalam penelitiannya tentang masyarakat Badui Cyrenaica dan tradisi tarekat Sanusiyah di Libya, Peters menggambarkan bagaimana kewibawaan seorang syekh tidak semata-mata berasal dari jabatan atau garis keturunan, melainkan dari pengakuan masyarakat terhadap kualitas yang melekat padanya: barakah.

No More Posts Available.

No more pages to load.