Kebun Sayur Terakhir di Seram Selatan

oleh -1 Dilihat

Dulunya, aktifitas berkebun masih sangat umum dilakukan masyarakat asli di desa-desa Telutih seperti Yaputih, Mosso, Angos, Wolu, Lafa dan Tehua. Tapi beberapa tahun belakangan, semenjak terbukanya akses jalan darat, aktifitas berkebun justru sangat jarang di temukan pada desa-desa tersebut. Mereka umumnya telah berpindah utk mengurusi tanaman jangka panjang seperti Pala, Kelapa, Coklat, dan cengkih dengan target penjualan per kilo sebagai penghasilan musiman. Atau biasanya juga karena berpindah ke sektor jasa, seperti sopir taksi, tukang bangunan, pengusaha, buruh bagasi atau kerja keluar kota.

Trend berkebun di Seram Selatan, khusushya Tehoru-Telutih belakangan ini seolah berbanding lurus dengan jarak ke pusat-pusat kota (center). Makin jauh sebuah desa dari pusat kota, maka aktifitas berkebun/berladang justru makin tinggi (periphery), sebaliknya makin dekat dari pusat kota, maka makin minim aktifitas warga asli untuk berkebun/berladang (centered). Desa-desa di Telutih yang mulai marak berkebun belakangan ini seperti : Laimu, Hunisi, Lahakaba, Yamalatu, Atiahu. Desa-desa yang jauh dari pusat ibukota kabupaten dan pasar modern.

Baca Juga  Soroti Penilaian terhadap Bahlil Lahadalia, Umar Lessy Minta Survei CELIOS Objektif dan Transparan

Rentang kendali memang sangat berpengaruh bagi aktifitas berkebun warga. Umumnya berkaitan dengan ketersediaan pasar-pasar modern yg di pusat kota. Akibatnya, aktifitas warga asli untuk berkebun sangat bergantung pada jauh-dekatnya akses terhadap pasar. Keberadaan pasar modern yg dekat berdampak pada rendahnya aktifitas berkebun warga asli di Tehoru-Telutih. Sebaliknya, makin dekat sebuah desa dengan pasar modern, makin rendah aktifitas berkebun warga aslinya.