Kebun Sayur Terakhir di Seram Selatan

oleh -282 views
Link Banner

Oleh: Ardiman Kelihu, Mahasiswa Pascasarjana UGM Yogyakarta

Sayur-sayur ini adalah hasil jalan-jalan pagi ke Desa Laimu, Kecamatan Telutih, Seram Selatan. Sayur-sayur ini diperoleh dari para pekebun di Desa Laimu yang mayoritasnya membuka ladang-ladang baru di tepi sungai Waelao, Laimu. Mereka berkebun dan berjualan langsung dari ladang-ladang yang letaknya di sepanjang pinggiran jalan trans Seram Selatan. Para pembeli dari desa-desa tetangga biasanya datang langsung ke kebun-kebun warga untuk membeli hasil kebun.
.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktifitas berkebun justru makin banyak dilakukan masyarakat di desa-desa pesisir Selatan Seram yang tinggal ke arah timur Pulau Seram. Makin ke timur, makin banyak ladang-ladang baru warga yang dibuka. Sebaliknya, makin ke barat–ke arah pusat ibukota kabupaten, kebun-kebun sayur justru jarang dijumpai di desa-desa yang mayoritas ditinggali penduduk asli Tehoru-Telutih. Paling, hanya di dusun-dusun yg mayoritasnya adalah orang Buton. Orang Buton yg datang dari Sulawesi, pasca kerusuhan, cenderung bermata pencaharian sebagai nelayan dan menanam tanaman seperti singkong, keladi, dan petatas.
Mereka menempati dusun-dusun atau ujung-ujung desa yang ditemoati warga asli Seram Selatan.

Baca Juga  Lima Hal yang Perlu Diketahui soal Sesak Napas sebagai Gejala Covid-19

Dulunya, aktifitas berkebun masih sangat umum dilakukan masyarakat asli di desa-desa Telutih seperti Yaputih, Mosso, Angos, Wolu, Lafa dan Tehua. Tapi beberapa tahun belakangan, semenjak terbukanya akses jalan darat, aktifitas berkebun justru sangat jarang di temukan pada desa-desa tersebut. Mereka umumnya telah berpindah utk mengurusi tanaman jangka panjang seperti Pala, Kelapa, Coklat, dan cengkih dengan target penjualan per kilo sebagai penghasilan musiman. Atau biasanya juga karena berpindah ke sektor jasa, seperti sopir taksi, tukang bangunan, pengusaha, buruh bagasi atau kerja keluar kota.

Trend berkebun di Seram Selatan, khusushya Tehoru-Telutih belakangan ini seolah berbanding lurus dengan jarak ke pusat-pusat kota (center). Makin jauh sebuah desa dari pusat kota, maka aktifitas berkebun/berladang justru makin tinggi (periphery), sebaliknya makin dekat dari pusat kota, maka makin minim aktifitas warga asli untuk berkebun/berladang (centered). Desa-desa di Telutih yang mulai marak berkebun belakangan ini seperti : Laimu, Hunisi, Lahakaba, Yamalatu, Atiahu. Desa-desa yang jauh dari pusat ibukota kabupaten dan pasar modern.

Link Banner

Rentang kendali memang sangat berpengaruh bagi aktifitas berkebun warga. Umumnya berkaitan dengan ketersediaan pasar-pasar modern yg di pusat kota. Akibatnya, aktifitas warga asli untuk berkebun sangat bergantung pada jauh-dekatnya akses terhadap pasar. Keberadaan pasar modern yg dekat berdampak pada rendahnya aktifitas berkebun warga asli di Tehoru-Telutih. Sebaliknya, makin dekat sebuah desa dengan pasar modern, makin rendah aktifitas berkebun warga aslinya.

Baca Juga  HUT RI-75, Pemerintah Luncurkan Tradisi Baru Peringatan Kemerdekaan

Tania Muray Li (2014) dalam The Land’s End, yang melihat gerak kapitalisme dari bawah. Gerak kerja kapitalisme justru merengsek dari para petani kakao di masyarakat Lauje, Sulawesi Tengah. Semenjak adanya booming cacao di pasar dunia, para petani Lauje saling berebut lahan utk menanam kakao. Konsep kepemilikan tanah yang tadinya komunal, justru berubah menjadi sangat individual karena masing-masing petani kakao mulai memprivatisasi tanahnya utk menanam kakao. Target mereka adalah harga kakao di pasar dunia. Pasar dan standar harga pasar dunia menarik kerja kapitalisme dari bawah. Dari para petani kakao.

Situasi minimnya kebun warga di Seram Selatan persis dengan kondisi di Lauje. Hanya saja masyarakat pekebun bukan saja berebut kapling tanah persis masyrakat Lauje di Sulawesi untuk membuka lahan-lahan Kakao. Para petani yang adalah warga asli Tehoru-Telutih yang telah beralih ke sektor jasa atau mengurusi tanaman jangka panjang seperti pala dan cengkeh justru menimbulkan kelangkaan kebutuhan subsisten warga dan persaingan ekonomi yang ketat antar sesama warga asli. Kondisi yang pada akhirnya, berdampak pada model solidaritas sosial masyarakatnya yg makin e dalam. Pada satu sisi, dalam jangka pendek, persaingan ekonomi ini juga menimbulkan kerentanan bagi warga asli di pesisir Selatan Seram. Mereka saling berebut lahan, menyewa tanaman, menjual tanah dan menghutang cengke dan pala kiloan. (*)