Kebun Sayur Terakhir di Seram Selatan

oleh -244 views

Tania Muray Li (2014) dalam The Land’s End, yang melihat gerak kapitalisme dari bawah. Gerak kerja kapitalisme justru merengsek dari para petani kakao di masyarakat Lauje, Sulawesi Tengah. Semenjak adanya booming cacao di pasar dunia, para petani Lauje saling berebut lahan utk menanam kakao. Konsep kepemilikan tanah yang tadinya komunal, justru berubah menjadi sangat individual karena masing-masing petani kakao mulai memprivatisasi tanahnya utk menanam kakao. Target mereka adalah harga kakao di pasar dunia. Pasar dan standar harga pasar dunia menarik kerja kapitalisme dari bawah. Dari para petani kakao.

Situasi minimnya kebun warga di Seram Selatan persis dengan kondisi di Lauje. Hanya saja masyarakat pekebun bukan saja berebut kapling tanah persis masyrakat Lauje di Sulawesi untuk membuka lahan-lahan Kakao. Para petani yang adalah warga asli Tehoru-Telutih yang telah beralih ke sektor jasa atau mengurusi tanaman jangka panjang seperti pala dan cengkeh justru menimbulkan kelangkaan kebutuhan subsisten warga dan persaingan ekonomi yang ketat antar sesama warga asli. Kondisi yang pada akhirnya, berdampak pada model solidaritas sosial masyarakatnya yg makin e dalam. Pada satu sisi, dalam jangka pendek, persaingan ekonomi ini juga menimbulkan kerentanan bagi warga asli di pesisir Selatan Seram. Mereka saling berebut lahan, menyewa tanaman, menjual tanah dan menghutang cengke dan pala kiloan. (*)