Bahkan dalam pembuatan perahu tradisional (Tobelo; ngotiri) masyarakat Tobelo juga masih menggunakan helai rambut perempuan seperti yang dikatakan oleh Arkelog maluku, Lucas Wattimena “Pengetahuan rakyat Halmahera Utara tentang perahu mencerminkan personifikasi dari seorang gadis (Ambon 1/8/2017)
Ia juga mengatakan hasil penelitiannya mengenai etnoarkeologi tradisi pembuatan perahu tradisional di Halmahera Utara (Tobelo) pada Maret 2017, menemukan bahwa peran gender dalam kontribusi rekontruksi kebudayaan masa lampau masih berlangsung di sana hingga sekarang.
Lingkungan menjadi bagian dari sistem sosial budaya pembuatan perahu kayu yang dibuat dari hasil hutan dan besi sebagai alat pengerjaan. Pengukuran sebuah perahu pun masih menggunakan rambut dari perempuan.
Perempuan Tobelo sangat di hormati di kalangan sukunya. Itu bisa dilihat ketika terjadi pernikahan baik sesama suku atau dengan suku lain. Dalam pernikahan tersebut ada sebuah tradisi yang disebut “cuci kaki”.
Tradisi cuci kaki memiliki makna filosofis pembersihan/penyucian. Tradisi cuci kaki pada acara perkawinan hanya dilakukan untuk mempelai wanita karena mempelai wanita (istri) telah keluar dari rumah orang tua untuk mengikuti mempelai pria (suami). Tradisi ini dilaukan dengan harapan perempuan yang sudah masuk dalam lingkar keluarga laki-laki memiliki hati yang bersih untuk memulai rumah tangga mereka di lingkungan keluarga laki-laki.








