Di sisi lain, kemampuan belanja masyarakat kelompok terbawah tumbuh lebih lambat.
Pengeluaran per kapita desil 1 hanya meningkat 3,94 persen, sedangkan desil 2 tumbuh 2,79 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan ekonomi kelompok masyarakat terbawah belum mampu mengejar kenaikan biaya kebutuhan dasar.
“Beras menjadi komponen terbesar pembentuk Garis Kemiskinan, dengan kontribusi 19,85 persen di perkotaan dan 28,36 persen di perdesaan. Kebutuhan perumahan juga menjadi beban besar bagi masyarakat miskin,” kata Harim saat menyampaikan Berita Resmi Statistik, Kamis (5/8/2026).
Kenaikan biaya kebutuhan dasar tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Sebab, ketika pengeluaran meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan pendapatan, ruang ekonomi masyarakat semakin sempit.
Tekanan tersebut juga tidak hanya terjadi pada masyarakat perkotaan.
Petani Tertekan, Kemiskinan Perkotaan Justru Lebih Dalam
Sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Maluku Utara juga menghadapi tekanan.
BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Utara turun dari 107,42 pada September 2025 menjadi 102,34 pada Februari 2026.
“Penurunan NTP menunjukkan kemampuan tukar petani melemah dan berpotensi mempersempit ruang ekonomi rumah tangga yang menggantungkan pendapatan rumah tangga pada sektor pertanian,” ujar Harim.









