Dalam kasus motor listrik MBG, misalnya, jawabannya tentang “kecele” dan “tebak saja sendiri” ketika ditanya soal pencopotan pejabat memperlihatkan gaya komunikasi yang jauh dari bahasa resmi yang biasanya sangat terukur.
Di sinilah kita perlu membedakan dua hal. Pejabat yang terlalu banyak bicara belum tentu pejabat yang salah.
Tapi pejabat yang berbicara tanpa koordinasi juga bisa menciptakan masalah yang tidak perlu. Keterbukaan dapat memperkuat akuntabilitas, tetapi ceplas-ceplos dapat mengacaukan pesan kebijakan.
Pemerintahan yang sehat tidak membutuhkan menteri yang bisu. Menteri Keuangan justru harus berani mengatakan bahwa anggaran bocor, prosedur lemah, atau program perlu diefisienkan.
Namun keberanian itu harus berjalan bersama ketelitian. Data harus benar, konteks harus lengkap, dan kritik terhadap lembaga lain harus melalui koordinasi yang layak.
Karena itu, jika pergantian Purbaya memang berkaitan dengan gaya komunikasinya, persoalannya bukan semata-mata bahwa ia terlalu jujur.
Bisa jadi persoalannya adalah cara menyampaikan kejujuran itu dalam sebuah pemerintahan yang menuntut disiplin pesan.
Kita belum memiliki bukti untuk menetapkan bahwa itulah sebabnya ia diganti. Tapi kita juga tidak perlu berpura-pura bahwa gaya bicara pejabat tidak pernah berpengaruh terhadap nasib politiknya.








